- 27 Juli 2026
NAHDLIYIN.COM, Magelang – Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang, Jawa Tengah, KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) menyatakan kesiapannya maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar Ke-35 NU.
Komitmen tersebut menguat setelah 23 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Jawa Tengah menyatakan dukungan melalui kegiatan Lamaran Agung Maklumat Dukungan PCNU Jawa Tengah kepada KH Muhammad Yusuf Chudlori, yang digelar di Aula Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang, Sabtu (18/7/2026).
Acara tersebut dihadiri para masyayikh, kiai, pengurus NU, aktivis Nahdliyin, serta alumni sejumlah pesantren besar, di antaranya Pondok Pesantren Lirboyo, Pondok Pesantren API Tegalrejo, dan Pondok Pesantren Al-Falah Ploso.
Menjelang Muktamar Ke-35 NU, nama Gus Yusuf menjadi salah satu figur yang masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU. Selain dirinya, sejumlah tokoh lain yang turut disebut sebagai kandidat antara lain Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Menteri Agama KH Nasaruddin Umar, Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa, Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), serta mantan Ketua Umum PB PMII Hery Haryanto Azumi.
Berangkat dari Aspirasi Kiai Sepuh
Gus Yusuf mengungkapkan bahwa keputusannya maju bukan didorong ambisi pribadi, melainkan berangkat dari aspirasi para kiai sepuh yang menginginkan perbaikan dan rekonsiliasi di tubuh Nahdlatul Ulama.
Ia menuturkan, dinamika internal NU membuat para masyayikh turun tangan dengan menggelar berbagai pertemuan di sejumlah pesantren, mulai dari Ploso, Tebuireng, hingga Lirboyo.
"Saya berawal dari dinamika di NU yang menjadikan para kiai sepuh turun gunung, memfasilitasi pertemuan di Ploso untuk islah, di Tebuireng, sampai akhirnya di Lirboyo," ujarnya.
Menurutnya, dalam Musyawarah Kubro di Pondok Pesantren Lirboyo, namanya mulai dimunculkan sebagai salah satu figur yang dinilai mampu menghadirkan suasana kondusif dalam Muktamar mendatang.
"Semangatnya sama, ingin muktamar besok menjadi muktamar yang solutif," katanya.
Gus Yusuf mengatakan, forum tersebut menghendaki Muktamar Ke-35 NU menjadi momentum menyelesaikan berbagai persoalan internal organisasi melalui kepemimpinan yang mampu merangkul seluruh elemen Nahdliyin.
"Muncul semangat harus dimunculkan figur yang bebas konflik," ujarnya.
Dorongan tersebut kemudian diperkuat oleh alumni Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal) dan para pengurus cabang NU di Jawa Tengah yang memintanya untuk kembali mengabdikan diri di NU.
"Saya bismillah niat khidmah di PBNU. Apa yang saya punya tentu niat. Kedua, saya banyak berkiprah, semoga ada manfaatnya untuk perbaikan ke depan," katanya.
Soroti Tata Kelola Organisasi
Selama sekitar lima bulan terakhir, Gus Yusuf mengaku telah melakukan silaturahmi ke sekitar 23 PWNU dan ratusan PCNU di berbagai daerah. Selain itu, ia juga sowan kepada para masyayikh, kiai sepuh, serta berziarah ke makam para muassis NU.
Dari rangkaian pertemuan tersebut, ia menyerap berbagai aspirasi, terutama terkait perlunya pembenahan tata kelola organisasi.
Menurutnya, organisasi sebesar Nahdlatul Ulama harus dijalankan secara profesional dengan berpegang teguh pada Qanun Asasi, AD/ART, serta prinsip transparansi.
"Organisasi sebesar NU ini tidak boleh diurus secara serampangan. Kita sudah punya Qanun Asasi dan AD/ART, tinggal bagaimana konsisten menjalankannya," ujarnya.
Ia menambahkan, para pengurus cabang dan wilayah menginginkan tata kelola organisasi yang lebih terbuka, sederhana, dan tidak mempersulit kader dalam menjalankan khidmah.
"Ini yang diinginkan PC dan PWNU, transparan, terbuka, gampang, jangan mempersulit," katanya.
Pesan Kiai: Prioritaskan Pesantren
Selain pembenahan organisasi, Gus Yusuf mengaku mendapat pesan kuat dari para kiai sepuh agar PBNU memberikan perhatian lebih besar terhadap keberlangsungan pesantren yang kini menghadapi tantangan perubahan zaman.
"Pesan kiai-kiai sederhana, urus pesantren dengan benar. Pesantren sedang menghadapi era transformasi, maka harus didampingi," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa seluruh kader NU harus memperoleh kesempatan dan hak yang sama dalam proses organisasi tanpa ada sekat maupun diskriminasi.
Menurutnya, semangat utama Muktamar Ke-35 NU adalah menghadirkan ruang bersama untuk memperkuat persatuan dan memperbaiki organisasi.
"Yang terpenting, muktamar ini semangatnya ayo bareng-bareng memperbaiki NU. Kita kasih ruang semua, jangan saling mencegat," tegasnya.
Profil Singkat Gus Yusuf
KH Muhammad Yusuf Chudlori lahir di Magelang pada 9 Juli 1973. Ia merupakan Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, salah satu pesantren bersejarah yang pernah menjadi tempat Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menimba ilmu.
Selain aktif memimpin pesantren, Gus Yusuf juga memiliki pengalaman panjang di dunia politik. Ia pernah menjabat sebagai Ketua DPW PKB Jawa Tengah dan berkiprah dalam pembangunan partai sejak awal era Reformasi.
Dalam bidang pendidikan, ia menempuh pendidikan di Pondok Pesantren API Tegalrejo, kemudian memperdalam ilmu agama di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Pondok Pesantren Salafiyah Kedung Banteng Purwokerto, serta Pondok Pesantren Salafiyah Bulus Kebumen.
Dengan dukungan dari 23 PCNU Jawa Tengah serta dorongan para masyayikh dan alumni pesantren, Gus Yusuf menyatakan siap mengabdikan diri melalui pencalonannya sebagai Ketua Umum PBNU pada Muktamar Ke-35 NU yang akan digelar di Jombang pada Agustus 2026.