Senin, 27 Juli 2026 21:58 WIB

Gus Yahya Siap Maju Kembali sebagai Calon Ketum PBNU, Ingin Tuntaskan Agenda Transformasi NU


  • Senin, 27 Juli 2026 18:12 WIB

NAHDLIYIN.COM, Jakarta – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), menyatakan siap kembali maju sebagai calon Ketua Umum PBNU pada Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama yang akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026.

Keputusan tersebut diambil dengan tekad melanjutkan dan menuntaskan berbagai agenda strategis yang telah dirintis selama masa kepemimpinannya sejak Muktamar Ke-34 NU di Lampung pada 2021.

Selain Gus Yahya, sejumlah tokoh juga telah disebut masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU menjelang Muktamar Ke-35 NU. Mereka di antaranya Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa, Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), Menteri Agama KH Nasaruddin Umar, Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), serta mantan Ketua Umum PB PMII Hery Haryanto Azumi.

Ingin Menuntaskan Agenda Strategis PBNU

Gus Yahya menegaskan bahwa keputusannya kembali mencalonkan diri bukan semata-mata untuk mempertahankan jabatan, melainkan agar berbagai program transformasi yang telah berjalan dapat diselesaikan secara optimal.

Menurutnya, pengalaman memimpin PBNU selama satu periode menjadi bekal penting untuk meningkatkan capaian organisasi pada masa mendatang.

"Saya memang hendak mencalonkan lagi karena, pertama, saya ingin menyelesaikan agenda-agenda yang sejak awal sudah saya bangun. Sekarang saya juga lebih mengerti bagaimana meningkatkan capaian-capaian yang sudah berhasil diperoleh," ujar Gus Yahya dalam konferensi pers di Jakarta.

Fokus Percepat Transformasi Digital NU

Salah satu program prioritas yang ingin dilanjutkan Gus Yahya adalah transformasi digital tata kelola organisasi Nahdlatul Ulama.

Ia menjelaskan bahwa sistem manajemen digital yang dikembangkan PBNU kini telah digunakan oleh seluruh pengurus wilayah, seluruh pengurus cabang, serta mulai diterapkan di tingkat Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU).

"Sudah dinikmati sampai ke tingkat cabang dan sebagian MWC, yaitu kepengurusan di tingkat kecamatan. Sudah ada sekitar 900 dari lebih 7.000 MWC yang sudah masuk ke dalam sistem," ungkapnya.

Menurut Gus Yahya, digitalisasi menjadi fondasi penting untuk memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kepada warga Nahdliyin di seluruh Indonesia.

Ia optimistis seluruh struktur kepengurusan NU, mulai dari tingkat wilayah, cabang hingga MWCNU, dapat terintegrasi dalam satu sistem digital dalam waktu kurang dari satu tahun.

Pengalaman Jadi Modal Melanjutkan Pembaruan

Gus Yahya menilai pengalaman selama lima tahun terakhir memberinya pemahaman yang lebih utuh mengenai kebutuhan organisasi dan langkah-langkah yang harus ditempuh agar PBNU semakin adaptif menghadapi tantangan zaman.

Karena itu, ia ingin memastikan berbagai agenda pembaruan yang telah dimulai tidak berhenti di tengah jalan, tetapi terus berkembang dan memberikan manfaat bagi jam'iyah maupun jamaah Nahdlatul Ulama.

Kiprah Gus Yahya

KH Yahya Cholil Staquf merupakan putra ulama kharismatik KH Muhammad Cholil Bisri dan cucu KH Bisri Mustofa, ulama besar sekaligus penyusun Tafsir Al-Ibriz. Ia juga merupakan adik Menteri Agama KH Yaqut Cholil Qoumas, sementara pamannya, KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), saat ini menjabat Mustasyar PBNU.

Pendidikan pesantrennya ditempuh di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, kemudian melanjutkan studi di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta di bawah asuhan KH Ali Ma'shum. Ia juga pernah menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Dalam perjalanan kariernya, Gus Yahya pernah dipercaya menjadi Juru Bicara Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Pada 2018, Presiden Joko Widodo menunjuknya sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).

Di lingkungan PBNU, ia pernah menjabat Katib Aam PBNU periode 2015–2021 sebelum akhirnya terpilih sebagai Ketua Umum PBNU pada Muktamar Ke-34 NU di Lampung. Dalam pemilihan tersebut, Gus Yahya memperoleh 337 suara dari total 548 suara sah, mengungguli kandidat lainnya.

Selain aktif di tingkat nasional, Gus Yahya juga dikenal luas di forum internasional sebagai penggerak dialog antaragama, perdamaian dunia, dan penguatan gagasan Islam Nusantara. Atas kiprahnya, namanya beberapa kali masuk dalam daftar The 500 Most Influential Muslims.

Dengan kembali menyatakan kesiapannya maju pada Muktamar Ke-35 NU, Gus Yahya menegaskan komitmennya untuk melanjutkan transformasi organisasi, memperkuat tata kelola PBNU, serta menyelesaikan agenda-agenda strategis yang telah dirintis selama masa kepemimpinannya.



ARTIKEL TERKAIT