- 01 Februari 2026
NAHDLIYIN.COM, Jakarta – Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Ahmad Muzani menegaskan bahwa kekuatan utama Nahdlatul Ulama (NU) dalam menjaga bangsa Indonesia terletak pada peran para kiai. Menurutnya, para ulama NU memiliki kemampuan menenangkan umat dan rakyat dalam berbagai situasi krisis, mulai dari masa penjajahan hingga bencana dan gejolak kebangsaan.
“Itulah cara NU menenangkan umatnya, itulah cara NU menenangkan rakyatnya,” ujar Muzani saat memberikan sambutan pada puncak peringatan Harlah ke-100 NU versi kalender Masehi di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (31/1/2026).
Muzani menilai, sejak awal berdirinya, NU tidak hanya hadir sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga menjadi penyangga ketenangan sosial dan spiritual bangsa. Peran tersebut dijalankan secara konsisten oleh para kiai melalui pengajaran agama, doa-doa, serta keteladanan yang hidup dan menyatu dengan masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa NU genap berusia 100 tahun pada 31 Januari 2026, bahkan lebih tua dari Republik Indonesia yang baru akan memasuki satu abad kemerdekaan pada 2045. “NU hari ini berusia 100 tahun, lebih tua dari Republik Indonesia,” katanya.
Menurut Muzani, NU lahir di tengah kondisi bangsa yang masih diliputi kemiskinan, keterbelakangan pendidikan, dan penjajahan. Namun, kesadaran para ulama dan kiai terhadap nasib umat dan bangsa menjadi fondasi kuat berdirinya jam’iyah tersebut. “Kesadaran para ulama dan kiai akan bangsanya, rakyatnya, dan umatnya itulah yang melahirkan Nahdlatul Ulama,” ujarnya.
Sejak masa awal, lanjut Muzani, NU telah menanamkan semangat perlawanan terhadap penjajahan melalui pesantren dan pendidikan agama. Nilai-nilai kebangsaan itu bahkan dituangkan dalam karya budaya seperti lagu Yalal Wathon yang diciptakan para ulama sebelum Indonesia merdeka untuk menumbuhkan cinta tanah air di kalangan santri.
Pasca kemerdekaan, peran NU tidak berhenti. Muzani menegaskan NU terus hadir menjaga keutuhan bangsa, termasuk saat menghadapi ancaman ideologi dan bencana alam. Dalam situasi sulit tersebut, para kiai berperan menenangkan umat dengan pesan-pesan keimanan dan kesabaran.
“Para kiai menyampaikan bahwa bencana adalah ujian dari Allah, yang harus dihadapi dengan kesabaran dan keteguhan iman,” ucapnya.
Ia menyebut, ketenangan spiritual masyarakat NU dibangun melalui tradisi keagamaan yang hidup di akar rumput, seperti istighasah, yasinan, tahlilan, zikir, dan shalawatan yang dipanjatkan di langgar, musala, dan majelis taklim. Tradisi itu, menurutnya, menjadi penopang keselamatan bangsa dan negara.
“Barangkali ketenangan spiritual inilah yang membuat bangsa Indonesia tetap kuat dan bersatu hingga hari ini,” ujar Muzani.
Di akhir sambutannya, Muzani menegaskan bahwa negara membutuhkan NU yang kuat, sehat, dan sejahtera. Ia meyakini, kekuatan NU akan berbanding lurus dengan kekuatan Indonesia. “Kalau NU kuat, Indonesia akan kuat,” tegasnya.
Ia menambahkan, NU yang mandiri dan berdaya akan menjadi pilar penting ketahanan nasional, sejalan dengan doa para ulama agar Indonesia memperoleh kebaikan, keselamatan, dan keberkahan, baik di dunia maupun di akhirat.