Kamis, 14 Mei 2026 01:47 WIB

Gus Salam Dukung Muktamar NU Digelar di Ponpes demi Hindari Politik Uang


  • Kamis, 07 Mei 2026 19:14 WIB

NAHDLIYIN.COM, Jakarta – Pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dijadwalkan berlangsung pada 1–5 Agustus 2026 mulai memunculkan berbagai usulan terkait lokasi penyelenggaraan. Salah satu gagasan yang menguat adalah dorongan agar muktamar digelar di lingkungan pondok pesantren (ponpes) guna menjaga marwah organisasi dan meminimalisir praktik politik uang.

Dorongan tersebut disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Jombang, KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam. Menurutnya, pelaksanaan muktamar di pesantren akan lebih mampu menghadirkan suasana yang khidmat dan beretika.

“Di samping meminimalisir money politics, juga untuk mengembalikan ruh pesantren di tubuh NU yang sedang mengalami degradasi, khususnya terkait etika dan akhlak berorganisasi,” ujar Gus Salam, Kamis (7/5/2026).

Salah satu kandidat Ketua Umum PBNU itu menilai lingkungan pesantren memiliki kekuatan moral yang dapat menekan praktik-praktik tidak sehat dalam kontestasi organisasi. Para pihak yang memiliki ambisi politik, kata dia, akan lebih segan melakukan manuver berlebihan jika forum berlangsung di kawasan pesantren.

“Ya pasti ada takutnya, takut kualat kalau main-main seperti politik uang di pondok pesantren,” tambahnya.

Wacana tersebut muncul di tengah persiapan intensif PBNU menuju Muktamar NU 2026. Sebelumnya, Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul memastikan bahwa muktamar akan digelar pada awal Agustus mendatang.

“Insyaallah, Muktamar NU akan dilaksanakan pada 1 sampai 5 Agustus 2026,” ujar Gus Ipul usai pertemuan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf dengan Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar di Gedung PBNU, Jakarta.

Pertemuan itu membahas persiapan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama, Konferensi Besar (Konbes) NU, hingga agenda muktamar. Namun hingga kini, lokasi resmi penyelenggaraan masih belum diputuskan.

Di tengah dinamika tersebut, Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, mulai ramai disebut sebagai salah satu kandidat tuan rumah. Apalagi, Forum Rais Syuriyah Nahdlatul Ulama se-Jawa Timur baru saja menggelar pertemuan di pesantren legendaris tersebut.

Rais Syuriyah PBNU KH Muhibbul Aman Ali menjelaskan bahwa forum itu merupakan inisiatif Pondok Pesantren Lirboyo sebagai bentuk khidmah terhadap jam’iyyah NU.

“Pertemuan ini untuk kemaslahatan NU. Tidak ada yang lain, semuanya demi kebaikan NU,” ujarnya didampingi Katib Syuriyah PBNU KH Athoillah Sholahuddin Anwar.

Meski demikian, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo KH Oing Abdul Muid Shoib menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada permintaan resmi terkait penunjukan Lirboyo sebagai tuan rumah Muktamar NU ke-35.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah mengusulkan Lirboyo sebagai tuan rumah Muktamar NU ke-35. Namun sampai saat ini belum ada permintaan resmi,” kata KH Oing Abdul Muid Shoib.

Dengan berbagai usulan yang berkembang, pelaksanaan Muktamar NU 2026 dipandang bukan sekadar agenda organisasi, melainkan momentum untuk mengembalikan nilai-nilai moral, etika, dan tradisi pesantren dalam perjalanan Nahdlatul Ulama ke depan.
 



ARTIKEL TERKAIT