Selasa, 26 Mei 2026 20:00 WIB

PWNU Jakarta Dampingi Tim Survei PBNU, Tinjau Kesiapan Pesantren Al Hamid Jadi Lokasi Muktamar ke-35 NU


  • Selasa, 26 Mei 2026 16:29 WIB

NAHDLIYIN.COM, Jakarta – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta mendampingi tim survei Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meninjau kesiapan Pondok Pesantren Al-Hamid Cilangkap, Jakarta Timur, sebagai calon lokasi pelaksanaan Muktamar ke-35 NU.

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari proses penentuan lokasi forum tertinggi Nahdlatul Ulama yang akan menentukan arah perjalanan organisasi ke depan.

Wakil Rais Syuriyah PWNU DKI Jakarta KH Ahmad Zahari menegaskan, PWNU DKI Jakarta sangat siap apabila dipercaya menjadi tuan rumah Muktamar ke-35 NU.

“Bukan hanya siap, tetapi sangat siap menjadi tuan rumah Muktamar ke-35. Baik dari sisi akomodasi, transportasi, maupun seluruh fasilitas yang dibutuhkan demi kenyamanan para muktamirin,” ujar KH Ahmad Zahari, Sabtu (24/5/2026).

Menurutnya, PWNU DKI Jakarta secara resmi mengusulkan Pondok Pesantren Al-Hamid sebagai lokasi pelaksanaan muktamar. Dari hasil peninjauan sementara, pesantren tersebut dinilai memiliki kesiapan yang sangat memadai.

“Kami dari PWNU mengajukan kepada tim survei PBNU. Alhamdulillah, Pesantren Al-Hamid dinilai sudah sangat layak untuk menjadi lokasi Muktamar,” katanya.

Ia menjelaskan, berbagai kebutuhan teknis telah dipersiapkan secara matang, mulai dari ruang sidang komisi, fasilitas tamu VIP, sistem transportasi, hingga dukungan penginapan peserta.

“Semua data lengkap dicatat oleh tim survei. Ruang tamu VIP, kebutuhan sidang-sidang komisi, semuanya sudah lengkap,” lanjutnya.

PWNU DKI Jakarta juga memastikan kesiapan penuh menghadapi seluruh kebutuhan besar penyelenggaraan muktamar yang diperkirakan akan dihadiri ribuan peserta dari seluruh Indonesia.

“Fasilitas, akomodasi, transportasi, semuanya sudah siap untuk menjadi tuan rumah,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU DKI Jakarta H Sulaiman menilai Jakarta sangat layak kembali menjadi tuan rumah Muktamar NU setelah terakhir kali digelar di ibu kota pada 1959.

“Muktamar terakhir di Jakarta itu sekitar tahun 1959. Jadi, DKI Jakarta sangat layak menjadi tuan rumah kembali dengan segala fasilitas yang disiapkan demi kenyamanan dan kelancaran muktamar,” ujarnya.

Menurutnya, posisi Jakarta sebagai ibu kota negara memiliki nilai strategis tersendiri bagi perjalanan NU ke depan.

“Sebagai ibu kota, tentu ini sangat strategis bagi NU ke depan. Jakarta memungkinkan menghadirkan berbagai tokoh untuk menyaksikan muktamar,” katanya.

Ia menyebut sejumlah lokasi representatif seperti Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta Convention Center (JCC), maupun kompleks pesantren dapat menjadi bagian dari rangkaian pelaksanaan muktamar dengan dukungan transportasi nasional yang lengkap.

Lebih lanjut, Sulaiman mengungkapkan bahwa persiapan pencalonan Jakarta sebagai tuan rumah sebenarnya telah dilakukan sejak dua tahun lalu, tepatnya setelah pelaksanaan Munas dan Konbes PBNU di Pesantren Al-Hamid pada 2023.

“Persiapan ini bukan sesuatu yang mendadak. Sejak 2023, setelah Munas dan Konbes PBNU di Al-Hamid, kami sudah mulai mempersiapkan semuanya,” jelasnya.

Adapun tim survei PBNU yang hadir dalam peninjauan tersebut terdiri atas Ketua PBNJ KH Fahmi Akbar Idris dan Wakil Sekretaris Jenderal PBNU HM Silahudin.

Sementara dari jajaran PWNU DKI Jakarta hadir mendampingi, di antaranya KH Ahmad Zahari, KH Lutfi Hakim, serta H Husny Mubarok Amir.

Berdasarkan hasil pemetaan awal, Pondok Pesantren Al-Hamid dinilai memiliki banyak keunggulan strategis. Selain berada di kawasan metropolitan dengan akses transportasi nasional yang lengkap, pesantren ini juga memiliki kapasitas akomodasi besar yang diperkirakan mampu menunjang kebutuhan 20 ribu hingga 30 ribu peserta dan tamu undangan.

Tak hanya itu, Pesantren Al-Hamid juga dianggap memiliki perpaduan kuat antara ruh pesantren, sanad ulama, serta dukungan infrastruktur modern yang menjadi kebutuhan penting dalam pelaksanaan Muktamar NU berskala nasional.
 



ARTIKEL TERKAIT