- 08 Juni 2026
NAHDLIYIN.COM, Jakarta – Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Mojo, Kabupaten Kediri, resmi meluncurkan logo Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2026. Peluncuran logo tersebut diumumkan melalui akun media sosial resmi pesantren dan menjadi salah satu penanda dimulainya rangkaian persiapan menuju forum strategis Nahdlatul Ulama yang akan digelar di pesantren bersejarah tersebut.
Menariknya, logo Munas-Konbes NU 2026 merupakan karya Ning Jazilah Annahdliyah (Ning Jazil), salah satu dzuriyah Pondok Pesantren Al-Falah Ploso. Karya tersebut lahir tidak hanya sebagai identitas visual acara, tetapi juga sebagai simbol harapan, doa, dan semangat khidmah kepada Nahdlatul Ulama.
“Alhamdulillah, hasil karyaku resmi dipakai Munas-Konbes NU. Semoga bukan hanya sekadar desain atau logo, tetapi makna dan harapannya menjadi doa yang diijabah Allah SWT,” ungkap Ning Jazil.
Ning Jazil menuturkan, ide pembuatan logo bermula dari dorongan sang suami, Gus Kaustar, yang memintanya mencoba merancang identitas visual untuk Munas-Konbes NU 2026. Sebagai bagian dari keluarga besar pesantren yang dipercaya menjadi tuan rumah, ia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk turut berkontribusi melalui bidang yang dikuasainya.
Menurutnya, proses perancangan logo berlangsung dalam waktu yang relatif singkat. Setelah mendapatkan kepastian bahwa Pondok Pesantren Al-Falah Ploso akan menjadi tuan rumah Munas dan Konbes NU 2026, ia langsung menuangkan gagasannya dalam sebuah desain yang dikerjakan hingga dini hari.
“Prosesnya hanya semalam. Saya lembur mulai pukul satu hingga tiga dini hari pada 4 Juni 2026,” kenangnya.
Simbol Persatuan di Bawah Payung Para Masyayikh
Logo Munas-Konbes NU 2026 hadir dengan sejumlah elemen yang sarat makna filosofis. Elemen paling menonjol adalah simbol payung yang menaungi huruf Arab berbentuk lambang NU.
Bagi Ning Jazil, payung tersebut melambangkan perlindungan, pengayoman, dan keteduhan yang diberikan Nahdlatul Ulama kepada umat dan bangsa. Payung juga menjadi simbol kehadiran para masyayikh yang senantiasa membimbing warga Nahdliyin dengan keluasan ilmu dan kebijaksanaan mereka.
“Harapannya, keberadaan NU benar-benar menjadi keteduhan bagi bangsa ini dan bagi seluruh Nahdliyin,” ujarnya.
Sementara itu, huruf NU dalam logo dirancang saling bergandengan sebagai simbol kuatnya ukhuwah, kekompakan, dan semangat saling menguatkan dalam menjalankan amanah organisasi serta khidmah kepada umat.
Perpaduan Warna Harapan dan Kejayaan
Dari sisi visual, logo menggunakan dominasi warna hijau dan emas yang selama ini lekat dengan identitas Nahdlatul Ulama.
Warna hijau menggambarkan keteduhan, kedamaian, dan nilai-nilai keislaman yang menjadi ruh perjuangan NU. Sedangkan warna emas melambangkan optimisme, kemuliaan, kejayaan, dan harapan akan masa depan organisasi yang semakin gemilang.
Kesan modern dan elegan juga diperkuat melalui penggunaan tipografi Neilvard Semibold One dan Montserrat Semi Bold yang memberikan karakter tegas namun tetap berwibawa.
Ning Jazil berharap logo tersebut dapat menjadi simbol pemersatu sekaligus pengingat akan pentingnya kebersamaan dalam menyukseskan Munas dan Konbes NU 2026.
Ia juga berharap forum permusyawaratan tertinggi kedua di lingkungan Nahdlatul Ulama setelah Muktamar itu dapat berlangsung dengan penuh kekhidmatan, memperkuat persaudaraan, serta melahirkan keputusan-keputusan strategis bagi masa depan organisasi.
“Semoga Munas-Konbes berjalan dengan khidmat, penuh rasa persaudaraan, kekompakan, dan saling bersinergi demi Nahdlatul Ulama yang gemilang di masa yang akan datang,” tuturnya.
Sebagaimana diketahui, Munas dan Konbes NU 2026 dijadwalkan berlangsung di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri. Pesantren yang memiliki sejarah panjang dalam perjalanan Nahdlatul Ulama tersebut akan menjadi pusat pertemuan para ulama, kiai, pengurus, dan tokoh NU dari berbagai daerah untuk merumuskan arah gerak organisasi dalam menjawab tantangan keumatan, kebangsaan, dan peradaban masa depan.