Sabtu, 27 Juni 2026 02:02 WIB

Kala Prabowo Ngaku Berguru Ilmu Politik dari Nahdlatul Ulama


  • Jum'at, 26 Juni 2026 18:41 WIB

NAHDLIYIN.COM, Bangkalan – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menghadiri sekaligus menutup Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) yang digelar di Institut Agama Islam (IAI) Syaichona Mohammad Cholil, Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (23/6/2026).

Dalam pidato penutupannya, Presiden Prabowo menyampaikan apresiasi tinggi terhadap Nahdlatul Ulama sebagai organisasi keagamaan yang dinilainya memiliki kematangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan, ia berkelakar bahwa siapa pun yang ingin belajar politik seharusnya belajar kepada NU.

Presiden tiba di lokasi mengenakan safari berwarna khaki lengkap dengan peci hitam. Kehadirannya disambut antusias ribuan warga Nahdliyin yang telah memadati area acara sejak siang hari.

Setibanya di lokasi, Prabowo disambut langsung oleh Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul), serta Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar.

Turut hadir Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Menko Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Menteri PPPA Arifah Fauzi, serta Gubernur Jawa Timur sekaligus Ketua Dewan Pembina PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa.

Belajar Politik dari NU

Mengawali sambutannya, Prabowo menyapa sejumlah menteri yang berasal dari lingkungan Nahdlatul Ulama. Ia menilai kaderisasi NU begitu kuat sehingga kader-kadernya tersebar di berbagai bidang, termasuk pemerintahan dan hampir seluruh partai politik.

"Ini Kabinet Merah Putih banyak sekali NU-nya," ujar Prabowo disambut tepuk tangan hadirin.

Menurutnya, NU memiliki kemampuan luar biasa dalam menjaga eksistensi tanpa harus terikat pada satu kekuatan politik tertentu.

"NU memang hebat. Selalu berada di mana-mana. Semua partai, NU hadir. Jadi NU tidak pernah kalah. Kalau mau belajar politik, seharusnya belajar dari NU," ucapnya yang langsung disambut gelak tawa para peserta.

Merasa Nyaman Bersama Warga Nahdliyin

Prabowo juga mengungkapkan kedekatan emosionalnya dengan keluarga besar Nahdlatul Ulama. Ia mengaku selalu merasa nyaman setiap berada di tengah warga Nahdliyin karena memiliki hubungan historis maupun kekeluargaan dengan NU.

Ia mengenang masa kecilnya yang bertetangga dengan keluarga Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Selain itu, ia menyebut nenek dari garis ibunya juga berasal dari kalangan Nahdlatul Ulama.

"Setiap berada di tengah keluarga besar Nahdlatul Ulama, saya merasa nyaman dan merasa aman," ungkapnya.

NU, Organisasi Agamis yang Nasionalis

Dalam kesempatan tersebut, Presiden menegaskan bahwa NU merupakan organisasi Islam yang tidak hanya kuat dalam menjaga nilai-nilai keagamaan, tetapi juga memiliki semangat kebangsaan dan patriotisme yang sangat tinggi.

Menurutnya, hal itu tercermin dari tradisi NU yang selalu menyanyikan lagu Ya Lal Wathon, sebuah lagu perjuangan yang sarat dengan pesan cinta tanah air bahkan telah lahir sebelum Indonesia merdeka.

Prabowo bahkan berkelakar bahwa semangat para warga NU saat menyanyikan lagu tersebut menyerupai pasukan militer.

"Setiap menyanyikan Ya Lal Wathon, tangannya selalu mengepal. Belum ada Kopassus, NU sudah lebih dulu punya salam komando," ujarnya yang kembali disambut tawa hadirin.

Kiai Paling Dekat dengan Rakyat

Dalam pidatonya, Prabowo juga menekankan pentingnya peran para kiai dan ulama sebagai tokoh yang paling memahami kehidupan masyarakat.

Menurutnya, para kiai hidup bersama rakyat dan mengetahui secara langsung berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, khususnya di pedesaan. Karena itu, ulama memiliki posisi strategis dalam menjaga harmoni bangsa bersama pemerintah, TNI, dan Polri.

"Para kiai dan ulama merasakan apa yang dirasakan rakyat paling bawah. Karena itu, ulama, pemerintah, tentara, dan kepolisian sesungguhnya sama-sama memahami kepentingan rakyat," ujarnya.

Menutup pidatonya, Prabowo menyampaikan candaan mengenai hubungan ulama dan umara. Menurutnya, saat berada di lingkungan pesantren dirinya harus patuh kepada para kiai. Namun ketika berada di Istana Negara, giliran para kiai yang harus menaati aturan pemerintahan.

"Kalau di sini saya harus patuh kepada kiai. Tapi kalau di Istana, kiai patuh sama saya. Itulah ulama dan umara bersatu untuk bangsa dan negara," tutup Prabowo yang disambut tepuk tangan meriah peserta Munas dan Konbes NU.



ARTIKEL TERKAIT