Selasa, 28 Juli 2026 21:03 WIB

Gus Salam Resmi Maju Calon Ketum PBNU, Usung Rekonsiliasi dan Penguatan Tradisi Pesantren


  • Selasa, 28 Juli 2026 19:05 WIB

NAHDLIYIN.COM, Jombang – Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar, Jombang, KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam, resmi menyatakan kesiapannya maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Muktamar Ke-35 NU.

Keputusan tersebut diambil setelah memperoleh dawuh dari sesepuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, KH Nurul Huda Djazuli, serta mendapat dorongan dari sejumlah kiai dan tokoh Nahdlatul Ulama di berbagai daerah.

Gus Salam mengungkapkan, dorongan untuk maju sebenarnya telah muncul sejak Muktamar NU di Lampung. Namun, saat itu ia memilih tetap fokus mengabdi di pesantren dan membantu kepemimpinan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).

"Sejak Muktamar di Lampung sebenarnya sudah ada teman-teman yang mendorong. Tetapi saya merasa belum memiliki kemampuan untuk berkhidmah sebagai Ketua Umum PBNU. Selain itu, guru kami juga mendawuhi untuk membantu Gus Yahya. Saya memandang berkhidmah di pesantren juga merupakan bagian dari khidmah kepada NU," ujar Gus Salam.

Berangkat dari Amanah Masyayikh

Menurut Gus Salam, dinamika yang berkembang di lingkungan PBNU belakangan ini membuat sejumlah kiai kembali memintanya mempertimbangkan pencalonan.

Momentum tersebut menguat ketika berlangsung pertemuan alumni Pesantren Al Falah Ploso di Malang yang dihadiri KH Nurul Huda Djazuli. Dalam kesempatan itu, sang guru memberikan arahan agar Gus Salam maju sebagai bentuk ikhtiar demi kemaslahatan NU.

"Beliau mengatakan, 'Ya sudah, Gus Salam maju sebagai ikhtiar.' Saya memahami itu sebagai ikhtiar agar NU menjadi lebih baik," katanya.

Setelah berdiskusi dengan para putra kiai dan mempertimbangkan berbagai aspek, Gus Salam akhirnya menerima amanah tersebut. Ia kemudian kembali sowan kepada KH Nurul Huda Djazuli untuk memohon doa restu sebelum mulai melakukan konsolidasi.

Silaturahim ke Para Kiai dan Pengurus NU

Sejak menyatakan kesiapannya maju, Gus Salam melakukan silaturahim kepada sejumlah ulama, pengasuh pesantren, serta pengurus NU di berbagai wilayah.

Ia mengaku telah meminta doa restu kepada banyak tokoh, di antaranya KH Miftachul Akhyar, KH Fuad Amin, KH Said Aqil Siradj, KH Ma'ruf Amin, serta sejumlah masyayikh di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat hingga Aceh.

Selain itu, komunikasi juga dilakukan dengan pengurus PWNU dan PCNU di berbagai daerah sebagai bagian dari ikhtiar membangun kebersamaan menjelang Muktamar.

"Kami berangkat dari amanah para masyayikh. Karena itu, kami merasa penting meminta doa restu kepada para sesepuh sebelum melangkah," ujarnya.

Rekonsiliasi Jadi Agenda Utama

Gus Salam menegaskan, apabila memperoleh amanah memimpin PBNU, prioritas pertama yang akan dilakukan adalah membangun rekonsiliasi di internal NU.

Menurutnya, silaturahim menjadi fondasi utama untuk merajut kembali persaudaraan seluruh elemen Nahdlatul Ulama setelah berbagai dinamika yang terjadi.

Ia bahkan menyatakan akan bersilaturahim kepada seluruh tokoh NU, termasuk Ketua Umum PBNU Gus Yahya, Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul), hingga Menteri Agama KH Nasaruddin Umar.

"Sebaik apa pun program yang disusun, tanpa kebersamaan dan kekompakan, semuanya akan sulit diwujudkan. Karena itu, rekonsiliasi harus menjadi langkah pertama," tegasnya.

Gus Salam menilai keberhasilan kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjaga eksistensi NU pada masa Orde Baru tidak lepas dari kemampuannya menyatukan unsur struktural dan kultural organisasi.

Fokus Jalankan Hasil Muktamar

Di bidang program, Gus Salam menegaskan Ketua Umum PBNU tidak boleh membawa agenda pribadi, melainkan berkewajiban melaksanakan seluruh keputusan Muktamar.

Menurutnya, hasil Komisi Organisasi, Komisi Program, maupun berbagai rekomendasi Muktamar harus menjadi pedoman kerja PBNU bersama seluruh jajaran wilayah dan cabang.

"Tugas pertama PBNU adalah menjalankan seluruh hasil Muktamar. Apa yang telah diputuskan oleh forum Muktamar itulah yang wajib dilaksanakan bersama," katanya.

Jejak Organisasi

KH Abdussalam Shohib merupakan cucu salah satu pendiri Nahdlatul Ulama, KH Bisri Syansuri. Lahir di Bangkalan, Madura, pada 1977, ia menempuh pendidikan di lingkungan pesantren keluarga sebelum melanjutkan studi di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri.

Karier organisasinya dimulai di Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) Kota Kediri pada 2002, kemudian menjadi pengurus LBMNU Jombang, anggota Syuriyah PCNU Jombang, Katib PBNU pada masa kepemimpinan KH Said Aqil Siradj, Wakil Ketua PWNU Jawa Timur, hingga pernah menjabat Wakil Sekretaris Jenderal PBNU sebelum mengundurkan diri pada periode kepengurusan saat ini.

Dengan deklarasi tersebut, Gus Salam menambah daftar nama yang masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU menjelang Muktamar Ke-35 NU. Selain dirinya, sejumlah tokoh yang juga disebut-sebut berpeluang maju antara lain Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Menteri Agama KH Nasaruddin Umar, Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa, Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), Hery Haryanto Azumi, serta KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf).



ARTIKEL TERKAIT