Selasa, 28 Juli 2026 21:07 WIB

Hery Haryanto Azumi Siap Maju Calon Ketum PBNU, Tawarkan Transformasi Organisasi dan Penguatan Peran Global NU


  • Selasa, 28 Juli 2026 19:34 WIB

NAHDLIYIN.COM, Jakarta – Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) periode 2005–2007, Hery Haryanto Azumi, menyatakan kesiapannya maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar Ke-35 NU yang akan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026.

Keseriusannya ditunjukkan dengan mulai menjalin silaturahim ke sejumlah pengasuh pesantren, kiai, serta pengurus NU di berbagai daerah. Hery menegaskan dirinya siap maju apabila memperoleh amanah dan dukungan dari para masyayikh serta warga Nahdliyin.

"Saya melihat NU sedang mengalami krisis. Terjadi konflik yang berkesinambungan, tetapi NU tidak mampu mengambil peran karena ikut terlibat dalam konflik. Situasi inilah yang melatarbelakangi panggilan untuk ikut cawe-cawe. Teman-teman di ISNU, PBNU, hingga PMII juga mendorong hal itu," ujar Hery dalam siniar Ruang Publik, dikutip Senin (27/7/2026).

Soroti Perlunya Transformasi Organisasi

Menurut Hery, tantangan yang dihadapi Nahdlatul Ulama saat ini tidak cukup dijawab dengan pembenahan administratif semata. Ia menilai NU membutuhkan transformasi organisasi yang lebih menyeluruh dan berjangka panjang.

Ia mencontohkan digitalisasi administrasi melalui sistem Digdaya sebagai langkah positif, namun menilai upaya tersebut baru menjadi bagian kecil dari proses pembaruan organisasi.

"Perubahan tidak sekadar memperbaiki metode persuratan melalui Digdaya. Itu memang bagian dari perubahan, tetapi belum sepenuhnya merepresentasikan transformasi organisasi yang lebih modern," katanya.

Hery berpandangan, transformasi NU harus melibatkan seluruh elemen organisasi, mulai dari PBNU hingga pengurus wilayah, cabang, pesantren, dan badan otonom agar perubahan dapat berjalan secara kolektif.

Ia juga menilai karakteristik Nahdlatul Ulama di Pulau Jawa dan luar Jawa memiliki tantangan yang berbeda sehingga memerlukan pendekatan yang lebih adaptif dalam proses pembenahan organisasi.

"Transformasi tidak bisa selesai hanya dalam satu periode kepengurusan. Kita membutuhkan perencanaan jangka panjang yang mampu menjadi arah pembangunan NU untuk puluhan tahun ke depan," ujarnya.

Dorong Blueprint NU Menuju 100 Tahun Mendatang

Sebagai bagian dari gagasannya, Hery mengusulkan penyusunan roadmap atau blueprint pembangunan Nahdlatul Ulama sebagai panduan strategis menghadapi tantangan satu abad ke depan.

Menurutnya, NU perlu memiliki arah yang jelas agar setiap kepengurusan dapat melanjutkan agenda besar organisasi secara berkesinambungan.

Di sisi lain, Hery memberikan apresiasi terhadap langkah Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) yang dinilainya berhasil membuka ruang bagi NU untuk memainkan peran lebih besar di tingkat internasional.

"Apa yang dilakukan Gus Yahya dalam membangun platform agar NU berkiprah secara global merupakan langkah yang luar biasa dan harus dilanjutkan dari sisi pandangan strategis," katanya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa penguatan posisi NU di tingkat global harus dibarengi dengan peningkatan kapasitas intelektual para ulama dan kader dalam memahami berbagai persoalan dunia.

"Pertanyaannya, apakah para ulama kita sudah memiliki structured knowledge mengenai krisis global yang dihadapi saat ini?" ujarnya.

Optimalkan Jaringan PCINU di Dunia

Hery juga menyoroti besarnya potensi jaringan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) yang kini telah tersebar di lebih dari 35 negara.

Menurutnya, keberadaan diaspora Nahdliyin tersebut merupakan modal sosial yang sangat berharga untuk memperkuat kontribusi NU dalam menjawab berbagai persoalan global, mulai dari isu kemanusiaan, perdamaian, hingga pembangunan peradaban.

"Masalahnya, apakah kita sudah terbiasa membicarakan krisis-krisis global itu dalam diskursus internal NU?" katanya.

Rekam Jejak Organisasi

Hery Haryanto Azumi lahir di Trenggalek pada 29 April 1977. Kiprah organisasinya dimulai saat menjadi Ketua PC PMII Ciputat pada 1999–2000.

Namanya semakin dikenal setelah terpilih sebagai Ketua Umum PB PMII dalam Kongres XV tahun 2005. Di lingkungan Nahdlatul Ulama, ia pernah dipercaya sebagai Wakil Sekretaris Jenderal PBNU pada masa kepemimpinan KH Said Aqil Siradj serta menjabat Sekretaris Jenderal Majelis Dzikir Hubbul Wathan (MDHW).

Bursa Calon Ketua Umum PBNU Semakin Dinamis

Dengan pernyataan kesiapan tersebut, Hery Haryanto Azumi menambah daftar tokoh yang masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU menjelang Muktamar Ke-35 NU.

Selain Hery, sejumlah nama yang juga disebut berpeluang maju antara lain Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Menteri Agama KH Nasaruddin Umar, Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa, Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), serta Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf).

Munculnya berbagai tokoh dengan latar belakang dan gagasan yang beragam menunjukkan semakin dinamisnya bursa calon Ketua Umum PBNU menjelang Muktamar Ke-35 NU. Beragam visi yang ditawarkan diharapkan menjadi ruang bagi warga Nahdliyin untuk menentukan arah kepemimpinan organisasi dalam menghadapi tantangan nasional maupun global pada masa mendatang.



ARTIKEL TERKAIT