- 28 Juli 2026
NAHDLIYIN.COM, Salatiga – Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin, resmi menyatakan kesiapannya maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar Ke-35 NU yang akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026.
Keputusan tersebut diambil setelah melalui proses perenungan yang panjang serta komunikasi intensif dengan para sahabat dan pengurus Nahdlatul Ulama di berbagai daerah.
"Saya sempat berpikir cukup lama. Setelah berdiskusi dengan teman-teman dan sejumlah Ketua PCNU yang menghubungi saya, akhirnya saya memutuskan berikhtiar untuk berkontestasi pada Muktamar tahun ini," ujar Gus Rozin saat bersilaturahim bersama para pengurus NU di Salatiga, Rabu (15/7/2026) malam.
Dalam kesempatan itu, putra almaghfurlah KH MA Sahal Mahfudh tersebut juga memohon doa restu dan dukungan dari para Ketua PCNU se-Jawa Tengah. Menurutnya, Jawa Tengah memiliki makna tersendiri karena menjadi tempat awal perjalanan pengabdiannya di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Muktamar Jadi Momentum Mengembalikan Marwah NU
Bagi Gus Rozin, Muktamar Ke-35 NU bukan sekadar ajang memilih pemimpin baru, melainkan momentum strategis untuk memperkuat kembali kepercayaan warga Nahdliyin terhadap organisasi.
Ia menilai NU perlu melakukan evaluasi terhadap berbagai persoalan yang muncul dalam beberapa tahun terakhir agar kembali tampil sebagai kekuatan moral dan penjaga nilai-nilai kebangsaan.
"Marwah dan kredibilitas NU saat ini mengalami penurunan yang cukup tajam. Berbagai persoalan internal organisasi, dinamika di pesantren, isu konsesi tambang, hingga menurunnya daya kritis harus menjadi bahan evaluasi bersama," katanya.
Menurut Gus Rozin, pencalonannya tidak dimaksudkan untuk mempertajam persaingan di Muktamar, melainkan menawarkan alternatif gagasan bagi masa depan organisasi.
"NU membutuhkan kebersamaan untuk keluar dari perbedaan yang berkepanjangan. Yang harus diperkuat adalah kedaulatan organisasi agar NU tetap menjadi rumah bersama bagi seluruh warganya," tegasnya.
Berangkat dari Tradisi Pesantren
Gus Rozin tumbuh di lingkungan Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Margoyoso, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Ia merupakan putra angkat almaghfurlah KH MA Sahal Mahfudh dan Nyai Hj Nafisah Sahal.
KH MA Sahal Mahfudh dikenal sebagai Rais Aam PBNU periode 1999–2014 sekaligus Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2000–2014. Sementara Nyai Nafisah Sahal pernah menjabat Mustasyar PBNU masa khidmah 2022–2027 serta memimpin PW Muslimat NU Jawa Tengah selama dua periode.
Pendidikan dasar hingga menengah ditempuh Gus Rozin di Perguruan Islam Mathali'ul Falah (PIM) Kajen. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di Pesantren Fathul Ulum Kwagean, Kediri, sebelum meneruskan studi di Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Aqidah Jakarta.
Ia kemudian meraih gelar Master of Education (M.Ed.) di Monash University, Australia, pada bidang Manajemen Pendidikan pada 2004, dan menyelesaikan program doktor di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang pada 2023.
Berpengalaman di Berbagai Jenjang Organisasi NU
Dalam perjalanan organisasinya, Gus Rozin aktif di berbagai badan otonom dan lembaga Nahdlatul Ulama. Ia pernah menjadi pengurus PP IPNU (1998–2001), pengurus Departemen Hubungan Luar Negeri PP GP Ansor (2000–2004), Wakil Ketua LP Ma'arif PBNU (2010–2013), Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) PWNU Jawa Tengah (2013–2015), Ketua RMI PBNU (2015–2021), hingga dipercaya menjadi Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah.
Dengan deklarasi tersebut, Gus Rozin menambah daftar tokoh yang masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU menjelang Muktamar Ke-35 NU. Sejumlah nama yang juga disebut berpeluang maju antara lain Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa, Menteri Agama KH Nasaruddin Umar, Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), serta mantan Ketua Umum PB PMII Hery Haryanto Azumi.
Dengan semakin banyaknya tokoh yang menyatakan kesediaan maju, Muktamar Ke-35 NU diperkirakan akan menghadirkan kontestasi yang dinamis. Namun, seluruh kandidat sama-sama menekankan pentingnya menjaga persatuan, marwah organisasi, dan keberlanjutan khidmah Nahdlatul Ulama bagi umat, bangsa, dan negara.