- 11 Agustus 2026
NAHDLIYIN.COM, Jombang – Musyawarah Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) pada Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) dijadwalkan berlangsung di Ndalem Kasepuhan KH Abdul Wahab Chasbullah (Mbah Wahab), yang berada di kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Pemilihan kediaman salah satu inisiator dan pendiri NU tersebut tidak sekadar mempertimbangkan aspek teknis, tetapi juga sarat dengan nilai sejarah. Ndalem Kasepuhan menjadi salah satu tempat yang merekam jejak perjuangan Mbah Wahab dalam merintis, menggerakkan, dan membesarkan NU.
Sebelumnya, panitia lokal berencana menempatkan forum AHWA di area makam Mbah Wahab. Namun, rencana tersebut kemudian diubah karena kawasan makam diperkirakan akan menjadi salah satu titik yang ramai dikunjungi peziarah dan peserta selama pelaksanaan Muktamar Ke-35 NU.
Ketua Umum Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, KH Abdurrozaq Sholeh (Gus Rozaq), mengatakan pemindahan lokasi dilakukan agar musyawarah AHWA dapat berlangsung lebih kondusif dan khidmat.
“Memang awalnya kita punya wacana ditempatkan di area makam. Tapi karena di situ area keramaian, jadi kita geser ke Ndalem KH Wahab Chasbullah,” kata Gus Rozaq, Senin (10/8/2026).
Menurut Gus Rozaq, Ndalem Kasepuhan juga dinilai mampu menghadirkan suasana yang lebih teduh sekaligus mengingatkan kembali sejarah awal perjuangan Mbah Wahab dalam mendirikan NU.
“Ini sekaligus untuk mengenang awal perjuangan Kiai Wahab mendirikan NU yang memang berawal dari rumah tersebut,” ujarnya.
AHWA merupakan forum yang beranggotakan sembilan ulama sepuh. Forum tersebut memiliki peran penting dalam menentukan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk masa khidmah berikutnya.
Dalam pelaksanaannya, sembilan ulama anggota AHWA dipilih berdasarkan perolehan suara terbanyak dari nama-nama ulama yang diusulkan oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dari berbagai daerah.
Pada Muktamar Ke-34 NU di Bandarlampung, sembilan ulama yang mengisi keanggotaan AHWA adalah KH Dimyati Rois, KH Ahmad Mustofa Bisri, KH Ma’ruf Amin, KH Anwar Manshur, TGH Turmudzi Badaruddin, KH Miftachul Akhyar, KH Nurul Huda Jazuli, KH Ali Akbar Marbun, dan KH Zainal Abidin.
Menjaga Muruah Kiai Sepuh
Gagasan sistem AHWA di lingkungan NU pertama kali diusulkan oleh PWNU Jawa Timur untuk diterapkan dalam Konferensi Wilayah. Meski belum terlaksana karena keterbatasan persiapan, gagasan tersebut kemudian dibawa ke Rapat Pleno PBNU masa khidmah 2010–2015 di Wonosobo, Jawa Tengah.
Rapat tersebut memutuskan pembentukan tim untuk mematangkan konsep AHWA yang diketuai Rais Syuriyah PBNU saat itu, KH Masdar Farid Mas’udi.
Gagasan AHWA lahir antara lain untuk menjaga martabat, wibawa, dan muruah para kiai sepuh dalam proses pemilihan Rais Aam PBNU. Sistem tersebut menjadi bagian dari evaluasi terhadap dampak pemilihan Rais Aam secara terbuka pada Muktamar Ke-32 NU di Makassar.
Setelah melalui berbagai diskusi dan seminar pra-Muktamar, konsep AHWA kemudian dimatangkan untuk dibahas dalam sidang pleno dan diterapkan secara resmi pada Muktamar Ke-33 NU di Jombang. Sistem tersebut kembali digunakan pada Muktamar Ke-34 NU di Bandarlampung.
Pada Muktamar Ke-35 NU di Tambakberas, forum AHWA kembali menjadi salah satu agenda penting dalam menentukan arah kepemimpinan Syuriyah PBNU untuk masa khidmah mendatang.