- 12 Agustus 2026
NAHDLIYIN.COM, Kota Banjarbaru – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terus mendorong pesantren untuk memperkuat standar keamanan, sistem pendidikan, dan pola pengasuhan santri melalui gerakan “Pesantrenku Aman”.
Gerakan tersebut kembali dikonsolidasikan di Pondok Pesantren Darul Ilmi, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Selasa (11/8/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian kunjungan dan pendampingan PBNU kepada pesantren yang dilakukan secara bergelombang sejak 3 Juni 2026.
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya mengatakan, “Pesantrenku Aman” merupakan bagian dari tanggung jawab utama NU dalam menjaga pesantren sebagai lembaga pendidikan dan pengasuhan yang dipercaya masyarakat.
“Pesantrenku Aman artinya pesantren yang memang sungguh-sungguh aman bagi santrinya, yang tidak akan muncul di dalamnya masalah-masalah yang tidak diinginkan oleh orang tua dan wali santri,” ujar Gus Yahya.
Menurutnya, menciptakan pesantren yang aman tidak cukup hanya dengan membangun fasilitas fisik. Keamanan harus ditopang oleh sistem pendidikan dan pengasuhan yang baik, mulai dari kurikulum, pola kepengasuhan, hingga penataan bangunan dan infrastruktur.
Karena itu, PBNU melalui Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU mendorong pesantren untuk saling berkonsolidasi, mengidentifikasi kebutuhan, berbagi pengalaman, serta membangun kerja sama dalam meningkatkan kualitas pengelolaan pesantren.
Gus Yahya menekankan, pesantren memiliki tanggung jawab besar karena menerima amanah orang tua untuk mendidik dan mengasuh anak-anak mereka selama 24 jam.
“Ketika anak dititipkan ke pesantren, sebagian tanggung jawab tersebut dipercayakan kepada kiai dan pesantren untuk diasuh selama 24 jam,” jelasnya.
Menurutnya, kepercayaan besar dari para wali santri tersebut harus dijawab dengan pengelolaan pesantren yang sebaik-baiknya.
“Amanah dari para wali santri yang begitu mempercayai dan penuh harap kepada kiai dan pesantren ini harus ditunaikan dengan sebaik-baiknya,” tegasnya.
Pendidikan Pesantren Harus Membentuk Jasmani, Akal, dan Ruh
Dalam kesempatan tersebut, Gus Yahya juga mengingatkan agar pendidikan pesantren tidak kehilangan tujuan utamanya, yakni membentuk manusia yang memiliki kedekatan dengan Allah SWT.
Ia mengajak para santri untuk meluruskan niat dalam menuntut ilmu dengan mengutamakan mencari rida Allah.
“Tidak usah berpikir keinginan dunia. Yang perlu diingat, setiap belajar adalah untuk mendapatkan ridha Allah,” tuturnya.
Menurut Gus Yahya, tradisi pesantren merupakan warisan pendidikan yang lengkap karena tidak hanya membentuk kemampuan intelektual, tetapi juga membina jasmani dan rohani.
Pesantren, katanya, memiliki tradisi mendidik santri agar sehat secara fisik, cerdas secara akal, sekaligus memiliki kehidupan spiritual yang kuat.
“Yang dibina dan dibangun selain jasad dan akal adalah juga ruh kita sehingga kita dididik untuk bisa menemukan jalan lurus mendekatkan kepada Sang Khalik, Allah SWT,” katanya.
Pesantren Harus Beradaptasi dengan Perkembangan Zaman
Gus Yahya juga menilai pesantren perlu terus beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan tradisi dan nilai-nilai kepesantrenan.
Menurutnya, santri tidak cukup hanya menguasai Al-Qur’an dan kitab-kitab keislaman, tetapi juga perlu dibekali ilmu pengetahuan umum seperti matematika, fisika, biologi, dan bidang ilmu lainnya.
“Tidak hanya belajar Al-Qur’an, kitab-kitab fikih dan lain sebagainya, tetapi juga belajar matematika, fisika, biologi dan lain sebagainya karena ini merupakan kebutuhan ketika memasuki dunia yang ada di hadapan,” jelasnya.
Penguasaan berbagai disiplin ilmu tersebut dinilai penting agar lulusan pesantren mampu beradaptasi dan memberikan solusi terhadap berbagai persoalan di tengah perubahan dunia.
Karena itu, pengembangan sistem pendidikan, kurikulum, metode pengasuhan, serta sarana dan prasarana menjadi tantangan yang harus dipikirkan bersama oleh para pengasuh pesantren.
“Ini merupakan satu hal yang memerlukan pertimbangan-pertimbangan dan pemikiran yang mendalam dari para pengelola pondok pesantren. Yang jelas ini bukan tugas yang ringan,” ujarnya.
NU Ajak Pesantren Saling Menguatkan
Untuk menjawab tantangan tersebut, PBNU mengajak pesantren-pesantren di lingkungan NU memperkuat jejaring dan kerja sama. Pesantren didorong untuk saling menyapa, bertukar pengalaman, serta saling membantu sesuai kebutuhan masing-masing.
Gus Yahya menilai, kerja sama tersebut penting agar berbagai persoalan yang dihadapi pesantren tidak harus diselesaikan secara sendiri-sendiri.
“Beban seberat apa pun akan menjadi ringan apabila kita pikul bersama,” katanya.
Ia menegaskan, pesantren merupakan bagian penting dari khitah perjuangan NU. Karena itu, perhatian terhadap pesantren harus menjadi salah satu prioritas utama organisasi.
“NU adalah organisasinya kiai-kiai yang punya khitah melalui pesantren-pesantren. Maka dari itu, yang pertama-tama yang dipikirkan oleh NU adalah pesantren-pesantren,” pungkas Gus Yahya.