Kamis, 27 Agustus 2026 10:09 WIB

Kayuh Ontel dari Balikpapan ke Muktamar Ke-35 NU, Wildan Abadi Bawa Pesan Cinta untuk Jam`iyyah


  • Kamis, 27 Agustus 2026 06:43 WIB

NAHDLIYIN.COM, Jombang – Kecintaan terhadap Nahdlatul Ulama (NU) dapat diwujudkan melalui berbagai cara. Bagi Wildan Abadi, warga asal Balikpapan, Kalimantan Timur, kecintaan kepada NU diwujudkan dengan cara unik dan penuh perjuangan: mengayuh sepeda ontel menuju Muktamar Ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Perjalanan tersebut bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga menjadi napak tilas sejarah NU sekaligus bentuk kecintaan warga akar rumput terhadap jam’iyyah.

Wildan mengungkapkan, ide berangkat ke Muktamar Ke-35 NU dengan sepeda ontel awalnya muncul dari sebuah guyonan di grup WhatsApp Lesbumi NU Balikpapan. Dalam percakapan tersebut, muncul gagasan untuk menghadiri muktamar dengan mengayuh sepeda ontel.

“Awalnya hanya guyonan di grup WhatsApp Lesbumi NU Balikpapan. Karena saya punya pengalaman bersepeda ontel, saya menyatakan siap kalau memang benar dilakukan,” kata Wildan saat ditemui di depan Makbarah KH Abdul Wahab Hasbullah, Rabu (26/8/2026).

Gayung pun bersambut. Gagasan tersebut mendapat dukungan dari Katib PWNU Kalimantan Timur KH Muhammad Muhlasin dan Ketua Lesbumi NU Balikpapan Ki Muhajirin.

Keduanya mengingatkan Wildan tentang semangat warga NU pada masa lalu yang memiliki kecintaan kuat terhadap jam’iyyah dan mengekspresikannya melalui berbagai cara.

“Ini menjadi motivasi saya. Rasa cinta terhadap NU yang diekspresikan masyarakat akar rumput itu nyata dan tulus. Dalam setiap peluh dan usaha mereka ada doa untuk jam’iyyah,” ujarnya.

Tiga Hari Menempuh Perjalanan

Perjalanan Wildan bersama rombongan berlangsung sekitar tiga hari. Mereka berangkat dari Balikpapan pada Ahad (23/8/2026) sore.

Pelepasan dilakukan di halaman Kantor Graha NU Balikpapan dan dihadiri Katib PWNU Kalimantan Timur KH Muhammad Muhlasin serta Rais PCNU Balikpapan KH Imam Taufiq Syahrul.

Dari Graha NU Balikpapan, Wildan dan rombongan kemudian menuju Pelabuhan Semayang. Kapal bertolak pada Senin (24/8/2026) pagi dan tiba di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, pada Selasa (25/8/2026) sore.

Setibanya di Surabaya, perjalanan Wildan tidak berhenti. Ia justru memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyusuri sejumlah tempat yang memiliki kaitan erat dengan sejarah perjalanan NU.

Salah satu tempat yang paling berkesan baginya adalah Kantor PCNU Kota Surabaya. Wildan bahkan berkesempatan menginap di tempat tersebut yang memiliki nilai sejarah karena pernah menjadi kantor PBNU pertama.

“Setiap detail bangunannya masih asli. Rasanya seperti waktu berhenti di tempat itu, tempat gema Resolusi Jihad pertama kali lahir,” ungkapnya.

Selain mengunjungi kantor PCNU Surabaya, Wildan juga berkesempatan bertemu dengan keluarga H Hasan Gipo, yang dikenal sebagai Ketua PBNU pertama. Ia juga menyempatkan diri berziarah ke Makam Sunan Ampel dan makam H Hasan Gipo di Surabaya.

Mengayuh Sepeda, Menyusuri Sejarah NU

Pada Rabu (26/8/2026) pagi, Wildan kembali mengayuh sepeda ontelnya dari Surabaya menuju Jombang.

Setelah menempuh perjalanan, rombongan akhirnya tiba di Jombang pada Rabu sore. Sebelum menuju lokasi Muktamar Ke-35 NU, mereka terlebih dahulu singgah di Pondok Pesantren Tebuireng untuk berziarah ke makam Hadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari, pendiri NU.

“Alhamdulillah, tidak ada halangan atau kendala yang berarti selama perjalanan,” tutur Wildan.

Perjalanan dengan sepeda ontel dari Balikpapan menuju Jombang menjadi pengalaman tersendiri bagi Wildan. Baginya, perjalanan tersebut bukan hanya tentang mencapai lokasi muktamar, melainkan juga tentang merawat ingatan, menziarahi sejarah, dan meneguhkan kecintaan kepada NU.

Wildan berharap Muktamar Ke-35 NU tidak hanya menjadi forum permusyawaratan organisasi untuk menentukan arah kepengurusan dan kebijakan jam’iyyah. Lebih dari itu, muktamar diharapkan menjadi momentum evaluasi bagi seluruh warga NU, baik yang berada dalam struktur kepengurusan maupun masyarakat NU secara luas.

“Mudah-mudahan Muktamar NU ini dapat menjadi kaca benggala bagi semua warga, baik struktural maupun nonstruktural. Kita harus terus meningkatkan dan memperbaiki,” pungkasnya.
 



ARTIKEL TERKAIT