Rabu, 09 September 2026 16:26 WIB

Tinggal di Papua Pegunungan, Ketua PCNU Abdul Latif Bimbing 300-an Warga Masuk Islam


  • Rabu, 09 September 2026 15:12 WIB

NAHDLIYIN.COM, Jombang – Puluhan tahun tinggal di Jakarta tidak membuat Abdul Latif Yelipele melupakan tanah kelahirannya. Setelah menempuh pendidikan di Jakarta, ia memilih kembali ke kampung halaman di Papua Pegunungan. Keputusan itu menjadi awal perjalanan panjangnya berdakwah dan mengenalkan Islam kepada masyarakat setempat.

Abdul Latif kini dipercaya sebagai Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Mamberamo Tengah, Papua Pegunungan. Namun, jauh sebelum aktif di organisasi keagamaan tersebut, ia telah lebih dulu berdakwah di tengah masyarakat yang mayoritas bukan Muslim.

"Setelah lulus SD di Wamena, saya sempat sekolah di Al Azhar Kebayoran Lama Jakarta sekitar 1997. Puluhan tahun saya di Jakarta, lalu saya pulang ke kampung halaman," ujar Abdul Latif di sela-sela Muktamar Ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Jombang.

Kepulangannya ke Papua bukan sekadar untuk berkumpul dengan keluarga. Ia merasa memiliki tanggung jawab untuk memperkenalkan Islam kepada masyarakat di daerah asalnya yang masih menjadi minoritas Muslim.

"Saya perlu pindah di sana, karena di sana Islamnya juga minoritas. Saya harus pindah di sana agar mereka bisa memahami Islam," ucapnya.

Dakwah yang dijalankannya perlahan membuahkan hasil. Abdul Latif membangun empat mushala di sejumlah titik sebagai tempat ibadah sekaligus pusat pembelajaran agama. Dari tempat-tempat tersebut, ia memperkirakan telah membimbing lebih dari 300 orang masuk Islam.

"Sekitar, saya hitung-hitung sekitar 300-an lebih," ujarnya.

Menurut Abdul Latif, membimbing warga menjadi Muslim tidak berhenti pada pengucapan dua kalimat syahadat. Mereka membutuhkan pendampingan untuk memahami ajaran Islam dan menjalankan ibadah.

"Saya yang Islamkan, yang bimbing syahadatnya. Ada empat titik mushala yang saya bangun. Baru banyak yang Muslim, saya syahadatkan dari semua," katanya.

Pulang Membawa Ilmu

Perjalanan Abdul Latif menjadi dai bermula sejak ia masih kecil. Setelah lulus SD di Wamena, ia berangkat ke Jakarta sekitar 1997 untuk melanjutkan pendidikan di Al Azhar Kebayoran Lama dengan dukungan Dewan Dakwah dan sejumlah pihak.

"Alhamdulillah saat itu dibiayai," katanya.

Bekal pendidikan agama yang diperolehnya di Jakarta kemudian ia bawa pulang ke Papua. Namun, berdakwah di wilayah Pegunungan Papua memiliki tantangan tersendiri, salah satunya persoalan bahasa.

Sejumlah warga lanjut usia yang telah menjadi mualaf, misalnya, kesulitan memahami ceramah berbahasa Indonesia. Karena itu, Abdul Latif memilih menggunakan bahasa daerah dalam berdakwah.

"Makanya saya dakwah pakai bahasa sana," ujarnya.

Baginya, penguasaan bahasa lokal menjadi kunci agar pesan agama dapat diterima masyarakat. Ia bahkan menilai dakwah akan lebih efektif jika dilakukan oleh putra daerah yang memahami bahasa dan budaya setempat.

"Kalau orang luar tidak bisa bahasa Papua asli, sulit menerima karena terkendala bahasa. Jadi yang berdakwah harus seorang Papua sendiri," katanya.

Selama menjalankan dakwah, Abdul Latif juga mendapat dukungan melalui penugasan resmi sebagai dai. Meski honor yang diterimanya dahulu hanya sekitar Rp250 ribu, ia tetap menjalankan tugas tersebut. Kini, honor itu meningkat menjadi sekitar Rp500 ribu dan penugasan sebagai dai masih aktif.

Puluhan tahun berdakwah membuat Abdul Latif melihat kebutuhan lain yang tak kalah penting, yakni tersedianya materi keislaman dalam bahasa-bahasa lokal Papua. Menurutnya, penerjemahan materi agama ke bahasa daerah akan membantu masyarakat memahami Islam secara lebih baik.

"Bahasa Papua belum," katanya.

Bagi Abdul Latif, dakwah di Papua Pegunungan bukan hanya tentang membangun mushala atau mengajak seseorang mengucapkan syahadat. Dakwah adalah tentang hadir di tengah masyarakat, memahami bahasa dan budaya mereka, serta mendampingi mereka setelah memilih jalan Islam.

Dari seorang anak Papua yang berangkat ke Jakarta selepas lulus SD, Abdul Latif kini pulang membawa ilmu dan mengabdikan diri di tanah kelahirannya. Empat mushala telah berdiri dan lebih dari 300 orang telah ia bimbing masuk Islam. Namun baginya, perjalanan dakwah itu masih jauh dari selesai.



ARTIKEL TERKAIT