- 28 September 2026
NAHDLIYIN.COM, Jakarta – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menegaskan bahwa hubungan Indonesia dan Palestina memiliki sejarah panjang yang berakar dari perjuangan para ulama, khususnya pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy’ari.
Hal itu disampaikan Gus Kikin saat memberikan sambutan dalam Muhadhoroh ‘Ammah di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Ahad (27/9/2026). Acara tersebut dihadiri Duta Besar Palestina untuk Republik Indonesia HE Abdulfattah AK Al-Sattari, Imam Besar Masjid Al-Aqsa Palestina HE Sheikh Mohammad AM Hussein, serta Penasihat Presiden Palestina Bidang Keagamaan HE Dr Mahmoud SA Al-Habbash.
Dalam sambutannya, Gus Kikin menyambut hangat kedatangan para tokoh Palestina di Pesantren Tebuireng yang didirikan KH Hasyim Asy’ari pada 1899.
Ia menjelaskan, KH Hasyim Asy’ari tidak hanya dikenal sebagai ulama dan pendiri pesantren, tetapi juga memiliki perhatian besar terhadap perjuangan kemerdekaan berbagai bangsa.
Menurut Gus Kikin, hubungan KH Hasyim Asy’ari dengan para ulama dari berbagai negara, termasuk Palestina, telah terjalin sejak sebelum Indonesia merdeka.
“Beliau di dalam mengajarkan ilmu-ilmu agama, beliau juga seorang pejuang-pejuang kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau memiliki hubungan yang sangat kuat di beberapa negara,” ujar Gus Kikin.
Ia menambahkan, perjuangan tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju kemerdekaan Indonesia pada 1945.
“Indonesia akhirnya mendapatkan kemerdekaan pada tahun 1945 atas perjuangan panjang KH Hasyim Asy’ari. Karena itu kita memiliki hubungan yang sangat panjang dengan Palestina,” katanya.
Dukungan untuk Palestina Terus Didoakan
Gus Kikin juga mengungkapkan bahwa KH Hasyim Asy’ari telah menyuarakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina sejak 1938. Semangat tersebut, menurutnya, terus diwariskan hingga kini melalui tradisi doa di lingkungan Pesantren Tebuireng.
“Sekarang kita masih membacakan Qunut Nazilah yang dibaca setiap saat kita shalat berjamaah di Masjid Tebuireng. Ini dengan kita mendoakan Palestina, kemerdekaan Palestina, kesejahteraan Palestina,” ungkapnya.
Bagi Gus Kikin, kehadiran Imam Besar Masjid Al-Aqsa dan Duta Besar Palestina di Tebuireng menjadi momentum penting untuk mempererat ukhuwah dan hubungan antara Indonesia dengan Palestina.
“Alhamdulillah kehadiran, kedatangan Imam Masjid Al-Aqsa beserta Duta Besar ini kita sambut dengan gembira. Ini menambah keakraban, meningkatkan ukhuwah persatuan bagi kita semuanya,” tuturnya.
Satu Abad NU, Perkuat Kebersamaan
Dalam kesempatan tersebut, Gus Kikin juga memaparkan perjalanan Nahdlatul Ulama yang didirikan KH Hasyim Asy’ari pada 1926. Memasuki usia satu abad pada 2026, NU terus berkembang dengan jumlah warga yang semakin besar.
“KH Hasyim Asy'ari mendirikan Nahdlatul Ulama di tahun 1926, kemudian berkembang dan saat ini di tahun 2026 sudah berusia 100 tahun Nahdlatul Ulama semakin banyak pengikut-pengikutnya,” jelasnya.
Gus Kikin menekankan pentingnya menjaga persatuan NU sekaligus membangun kerja sama dengan berbagai negara, termasuk negara-negara Islam dan Palestina.
“Perlu juga kita membangun kebersamaan di Indonesia maupun di luar negeri bersama dengan negara-negara Islam yang lain termasuk juga dengan Palestina. Keakraban ini harus kita tingkatkan,” katanya.
Menurutnya, kerja sama tersebut dapat dikembangkan melalui bidang pendidikan maupun berbagai sektor lainnya.
“Kita harus saling mendukung, saling tolong-menolong, saling kita tingkatkan supaya kita sama-sama bisa berkembang, bisa lebih maju di masa-masa yang akan datang,” imbuhnya.
Tebuireng Dorong Kerja Sama Pendidikan
Gus Kikin kemudian menjelaskan perkembangan Pesantren Tebuireng yang kini memiliki berbagai lembaga pendidikan, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.
Saat ini, kata dia, terdapat 14 lembaga pendidikan di lingkungan Tebuireng, termasuk Universitas Hasyim Asy’ari dan Ma’had Aly yang berfokus pada kajian hadis.
Perkembangan tersebut, menurut Gus Kikin, membuka ruang bagi peningkatan kerja sama pendidikan antara Indonesia dan Palestina.
“Kita perlu meningkatkan keilmuan di pondok pesantren maupun di Indonesia bersama negara-negara Islam lainnya, terutama Palestina, sehingga bisa meningkatkan kualitas pendidikan,” ujarnya.
Ia pun mengajak para peserta untuk memanfaatkan pertemuan tersebut sebagai ruang bertukar pengetahuan dan pengalaman dengan para tokoh Palestina.
“Ini kesempatan untuk berkenalan dengan saudara-saudara kita di Palestina. Silakan dimanfaatkan untuk berdialog, bertanya, dan mengambil pengalaman yang bisa diterapkan di Pesantren Tebuireng,” pungkas Gus Kikin.