Jum'at, 02 Oktober 2026 05:31 WIB

Gus Ipang Wahid: Rebranding Media dan Budaya Pop Kunci NU Dekati Anak Muda


  • Kamis, 01 Oktober 2026 16:46 WIB

NAHDLIYIN.COM, Jakarta – Wakil Ketua Umum PBNU Bidang Digital Native, Teknologi, Budaya, dan Komunikasi, H Irfan Asy’ari Sudirman Wahid atau Gus Ipang Wahid, menegaskan pentingnya peremajaan atau rebranding media serta pendekatan budaya populer (pop culture) untuk memperluas jangkauan dakwah dan syiar Nahdlatul Ulama (NU) di era digital.

Menurut Gus Ipang, perubahan pola konsumsi informasi masyarakat, terutama generasi Z dan Alpha, menuntut NU untuk tidak hanya mempertahankan substansi dakwah, tetapi juga memperbarui cara menyampaikannya agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Pesan tersebut disampaikan Gus Ipang di Gedung PBNU, Jakarta, Rabu (30/9/2026) malam, seusai pengumuman jajaran pengurus PBNU hasil Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, Jombang. Dalam kesempatan tersebut, ia berdialog dengan jajaran redaksi NU Online, TVNU, dan nahdliyin.com.

“Saya kepingin NU yang ke depan ini, NU yang kekinian, related sama zaman itu. Dakwah itu penting, tapi cara berdakwah itu enggak kalah penting bagi saya,” ujar Gus Ipang.

Ia menilai, kebesaran NU harus diikuti dengan kemampuan untuk tetap hadir dan diterima oleh generasi yang terus berubah. Menurutnya, tidak cukup bagi NU hanya meyakini bahwa organisasinya besar apabila pesan-pesan yang disampaikan tidak lagi menjangkau masyarakat luas.

“Kita ngomong sendiri dengan kebesaran NU, tapi kita tidak dilihat sama mereka. Ini bahaya menurut saya. Kalau kita kayak begini terus, lima tahun ke depan lebih parah lagi. Kelompok-kelompok yang lain makin memuda, kita malah makin menua,” jelasnya.

Gus Ipang menekankan bahwa perubahan zaman berlangsung sangat cepat. Karena itu, NU perlu membangun kemampuan adaptasi, termasuk dalam mengelola komunikasi, media, dan kebudayaan.

“Zaman ini berubah, bener-bener berubah. Kalau kita tidak mau ikut adaptif berubah, ini kacau,” imbuhnya.

Budaya NU Harus Berorientasi ke Masa Depan

Gus Ipang juga mendorong lembaga-lembaga NU yang bergerak di bidang kebudayaan dan komunikasi agar memiliki orientasi ke depan (forward-looking). Menurutnya, strategi kebudayaan NU tidak cukup hanya merawat romantisme masa lalu, tetapi juga harus mampu menciptakan gagasan dan tren baru yang dapat diterima generasi muda.

Hal tersebut, menurutnya, juga berlaku bagi Lesbumi maupun kanal media NU seperti NU Online, nahdliyin.com, dan TVNU. Kreativitas dan kemampuan membaca perubahan menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem komunikasi NU di masa mendatang.

“Kita tuh harusnya udah ngomong gimana anak muda sekarang ke depannya punya fighting spirit, berpikir revolusioner. Nah, itu lah budaya kita yang baru,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa kebudayaan tidak semata-mata berbicara mengenai masa lalu.

“Budaya ini bukan ke belakang doang, budaya ini ke depan. Bagaimana kita nge-set budaya ke depan untuk anak-anak muda, creative thinking, strategic thinking, kekinian,” tambah Gus Ipang.

Untuk memperluas jangkauan pesan-pesan kebaikan NU, Gus Ipang membuka peluang kolaborasi dengan berbagai figur publik, tokoh populer, maupun kreator konten yang memiliki basis pengikut besar di kalangan generasi muda.

Di saat yang sama, penyegaran tampilan dan arah media NU juga perlu terus dimatangkan agar lebih menarik, adaptif, dan responsif terhadap kebutuhan informasi publik.

Gus Ipang menyatakan terbuka terhadap berbagai gagasan baru dan kolaborasi lintas lini untuk memperkuat ekosistem digital NU.

Ia juga mengajak jajaran pengelola media NU untuk menggelar lokakarya secara rutin sebagai ruang merumuskan langkah-langkah konkret dalam mengoptimalkan potensi media yang sudah dimiliki NU.

Pertemuan yang berlangsung sekitar 35 menit tersebut berlangsung secara interaktif. Selain menyampaikan gagasan, Gus Ipang juga membuka ruang bagi pengelola media NU untuk menyampaikan masukan terkait tantangan dan peluang komunikasi NU di tengah perubahan lanskap digital dan budaya populer.

Pesan besarnya jelas: substansi dakwah NU tetap kuat, tetapi cara menyampaikannya perlu terus diperbarui agar mampu hadir di ruang-ruang yang dihuni generasi baru.



ARTIKEL TERKAIT