Sabtu, 03 Oktober 2026 05:36 WIB

Abad Kedua NU, Gus Firjaun Ajak Santri Sumenep Rapatkan Barisan dan Perkuat Spiritual


  • Jum'at, 02 Oktober 2026 17:20 WIB

NAHDLIYIN.COM, Sumenep – Memasuki abad kedua Nahdlatul Ulama (NU), para santri dan warga Nahdliyin diajak untuk merapatkan barisan serta menata diri, baik secara personal maupun jam’iyah. Penataan tersebut dinilai penting untuk memperkuat spiritualitas, keikhlasan dalam berkhidmat, serta keteguhan NU dalam mengamalkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

Pesan tersebut disampaikan KH Muhammad Balya Firjaun Barlaman (Gus Firjaun) saat menghadiri Kick Off Hari Santri 2026 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, yang digelar di Aula Al-Ikhlas Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Sumenep, Kamis (1/10/2026).

Gus Firjaun menekankan pentingnya pembenahan spiritual secara personal. Menurutnya, seorang santri harus terus memperbaiki hati agar tidak menggantungkan diri kepada selain Allah SWT.

“Secara personal memperbaiki spiritual dan hati. Bagaimana agar tidak bersandar kecuali kepada Allah SWT. Sebagaimana dicontohkan oleh para santri terdahulu. Melawan penjajah hanya menggunakan bambu runcing dan bacaan shalawat, karena bersandar penuh kepada Allah,” tuturnya.

Menurut Gus Firjaun, penataan jam’iyah juga harus dilakukan secara internal dan eksternal. Dari sisi internal, warga NU perlu memperkuat keikhlasan dalam mengembangkan sekaligus mengamalkan Aswaja sebagai ruh perjuangan jam’iyah.

Khidmat di NU, lanjutnya, tidak cukup hanya diwujudkan dengan menjadi pengurus. Lebih dari itu, khidmat harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari melalui pengamalan Aswaja an-Nahdliyah.

“Tidak hanya sekadar menjadi pengurus, tetapi juga mengamalkan seluruh amaliyah Aswaja an-Nahdliyah. Ibarat warung, maka harus ada dapur dan chef-nya. Harus ada ciri khas,” jelasnya.

Sementara dalam ranah eksternal, Gus Firjaun mendorong kader NU untuk memperkuat peran di berbagai bidang kehidupan. Ia mengibaratkan NU sebagai sebuah tiang, sementara politikus, pengusaha, dan akademisi sebagai balon yang tetap harus terikat pada tiang tersebut.

“Setinggi apa pun balonnya, jika tiangnya kokoh, tetap akan terkendali. Maka NU akan mengendalikan, bukan dikendalikan,” tegasnya.

Keikhlasan Menghadapi Dinamika NU

Gus Firjaun juga mengajak warga NU menghadapi berbagai dinamika organisasi dengan keikhlasan dan ketulusan. Menyinggung susunan kepengurusan PBNU yang baru diumumkan, ia mengingatkan bahwa perbedaan sikap merupakan sesuatu yang wajar dalam sebuah organisasi.

Ia mengutip ungkapan Imam Syafi’i:

لَيْسَ لِأَحَدٍ إِلَّا لَهُ مُحِبٌّ وَمُبْغِضٌ

Menurutnya, berbagai dinamika yang terjadi tidak terlepas dari ketentuan Allah SWT dan selalu memiliki hikmah. Karena itu, warga NU diharapkan tidak mudah larut dalam tekanan maupun isu yang berkembang.

“Marilah kita kembalikan kepada Allah. Maka keikhlasan dan ketulusan yang akan menyelamatkan kita. Siapa pun yang berniat baik, akan mendapatkan balasan yang baik. Sebaliknya juga begitu,” katanya.

Ia menegaskan, perjalanan panjang NU telah menunjukkan kemampuan jam’iyah ini untuk bangkit menghadapi berbagai tantangan. Berbagai ujian, menurutnya, justru menjadi bagian dari proses yang membuat NU semakin kuat.

“10 kali NU dihantam, 100 kali NU kian bangkit. 100 kali NU ditendang, 1.000 kali NU semakin kokoh dan kuat,” ujarnya.

Dari Sumenep, Menyiapkan Generasi NU yang Kokoh

Gus Firjaun berharap PCNU Sumenep dapat menjadi bagian dari ikhtiar memperkuat NU sebagaimana cita-cita para muassis. Penguatan tersebut, menurutnya, tidak hanya berkaitan dengan kesiapan lahiriah, tetapi juga harus dibarengi dengan kemantapan spiritual.

Ia berharap gerakan tersebut dapat dimulai dari Sumenep dan menjadi bagian dari upaya menyiapkan generasi NU yang memiliki keteguhan hati, keikhlasan dalam berkhidmat, serta kuat memegang nilai-nilai Aswaja.

“Semoga NU, diawali dari Sumenep ini, akan menjadi embrio NU yang betul-betul diharapkan muassis. Mudah-mudahan ke depan kita semakin menyiapkan diri kita, tidak hanya lahiriah, tapi kemantapan spiritual,” pungkasnya.
 



ARTIKEL TERKAIT