- 05 Oktober 2026
NAHDLIYIN.COM, Jakarta – Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jerman menginisiasi Santri Fest 2026 dalam rangka memeriahkan Hari Santri 2026. Rangkaian kegiatan diawali dengan Seminar Akademik yang membedah disertasi berjudul Faith After Empire secara daring pada Ahad (4/10/2026).
Seminar tersebut menghadirkan Ketua Tanfidziyah PCINU Jerman Muhammad Miftah El Azmi, penulis disertasi Yulianingsih Riswan, serta Guru Besar bidang Politik dan Sosiologi Agama Mochamad Nur Ichwan sebagai penanggap.
Dalam forum tersebut, Yulianingsih Riswan atau Yulia memaparkan penelitiannya yang mengkaji keterkaitan antara agama, bahasa, dan diaspora. Salah satu bagian yang dibahas adalah dinamika penerjemahan Al-Qur'an ke dalam bahasa Belanda serta respons diaspora Indonesia terhadapnya.
Yulia menjelaskan, pada 1989 terdapat terjemahan Al-Qur'an berbahasa Belanda karya orientalis Belanda, Freud Lemheuis, berjudul De Koran. Karya tersebut kemudian mendapat respons ilmiah dari diaspora Indonesia yang dikomandoi Sofjan Saury Siregar karena dinilai terdapat sejumlah kekeliruan dalam penerjemahan.
Menurut Yulia, sejumlah istilah dan identitas dalam Al-Qur'an diterjemahkan secara leksikal. Ia mencontohkan Dzulqarnain yang diartikan sebagai “yang memiliki tanduk” dan yaumul jumu'ah yang dimaknai sebagai “hari pertemuan”.
Respons tersebut kemudian diwujudkan melalui sebuah seminar yang menghadirkan sejumlah tokoh dan ilmuwan Muslim. Pertemuan itu melahirkan Kitab Mulahazhat, yang berisi catatan-catatan kritis terhadap penerjemahan Al-Qur'an karya Lemheuis.
“Yaitu catatan-catatan penting yang dilakukan Lemheuis ketika ia menerjemahkan Al-Qur'an,” jelas Yulia.
Perdebatan tersebut tidak berhenti pada forum seminar. Menurut Yulia, muncul inisiatif untuk membangun gerakan alternatif melalui penerjemahan Al-Qur'an yang disesuaikan dengan kecenderungan akidah yang diyakini oleh penerjemahnya.
“Kenapa orang itu membuat penerjemahan baru lagi padahal sudah ada terjemahan lainnya karena persoalan kebenaran aqidah,” terang doktoral University of Freiburg tersebut.
Yulia menjelaskan, persoalan penerjemahan juga berkaitan dengan bagaimana nama atau sifat Tuhan diterjemahkan, apakah menggunakan bahasa metaforis atau diterjemahkan secara leksikal berdasarkan teks Al-Qur'an.
Sementara itu, Mochamad Nur Ichwan menambahkan bahwa penerjemahan Al-Qur'an tidak hanya berkaitan dengan kemampuan bahasa, tetapi juga menyangkut otoritas dalam tata bahasa Arab dan keislaman.
Ia menilai posisi Sofjan Siregar dalam konteks tersebut memiliki otoritas tersendiri, salah satunya karena latar belakang pendidikan dan aktivitas profesionalnya.
“Di sini tentu Pak Sofjan Siregar memiliki otoritas yang lebih kuat, lulusan Universitas Madinah,” ujar Ichwan.
Menurut Ichwan, latar belakang pendidikan dan lingkungan kerja penerjemah juga turut memengaruhi orientasi keagamaan yang kemudian tercermin dalam karya penerjemahan.
Di awal diskusi, Miftah El Azmi berharap pembahasan Faith After Empire tidak hanya menjadi kontribusi bagi pengembangan keilmuan, tetapi juga memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, terutama mereka yang memiliki ketertarikan terhadap isu agama, bahasa, dan diaspora.
Ia juga berharap forum tersebut menjadi ruang refleksi dan pertukaran gagasan yang dapat memperkaya wawasan para peserta.
“Semoga diskusi hari ini dapat membuka ruang refleksi dan memperkaya wawasan kita semua,” pungkasnya.
Selain Seminar Akademik, Santri Fest 2026 yang diinisiasi PCINU Jerman juga akan diisi dengan sejumlah kegiatan lain, di antaranya Workshop dan Lomba Menulis Opini, Lomba Video Pendek, serta Cerdas Cermat.
Informasi mengenai rangkaian kegiatan Santri Fest 2026 dapat diakses melalui akun resmi PCINU Jerman.