Kamis, 08 Oktober 2026 05:58 WIB

Gus Ipang Wahid Siapkan Jurus Baru NU, Dekati Gen Z hingga Naikkan Kelas Santri


  • Rabu, 07 Oktober 2026 19:47 WIB

NAHDLIYIN.COM, Jakarta –  Nahdlatul Ulama (NU) sedang menyiapkan cara baru untuk menyapa generasi muda. Bukan sekadar aktif di media sosial, tetapi bagaimana NU bisa hadir dengan bahasa, konten, dan pendekatan yang benar-benar nyambung dengan Gen Z dan Gen Alpha.

Gagasan itu menjadi salah satu fokus Wakil Ketua Umum PBNU H Irfan Asy’ari Sudirman Wahid atau Gus Ipang Wahid, yang membidangi Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) dan Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN).

Gus Ipang menargetkan seluruh program di bidangnya mulai berjalan paling lambat awal 2027. Dalam waktu dekat, ia bersama tim akan memadatkan proses persiapan, mulai dari menyusun roadmap, memetakan persoalan, membentuk tim, hingga menyiapkan sumber daya manusia dan pendanaan.

“Target terdekat adalah paling lambat awal tahun seluruh program sudah mulai berjalan,” kata Gus Ipang kepada Nahdliyin, Rabu (7/10/2026).

Menurutnya, ada tiga tujuan besar yang menjadi pijakan program tersebut. Pertama, membuat masyarakat semakin mengenal, memahami, dan percaya kepada NU. Kedua, membantu masyarakat mengenal Allah dan memahami ajaran Islam. Ketiga, mendorong santri dan pesantren agar mampu naik kelas dan semakin kompetitif.

Bukan Sekadar Dakwah, Tapi Harus Nyambung

Bagi Gus Ipang, cara menyampaikan pesan kepada anak muda tidak bisa menggunakan satu pola untuk semua orang.

“Kalau targetnya Gen Z, kita harus berbicara dengan bahasa Gen Z. Mungkin istilahnya bukan dakwah, melainkan menebar kebaikan. Substansinya adalah kebaikan,” ujarnya.

Karena itu, ia mendorong pendekatan yang lebih kreatif dan tidak terpaku pada pola lama. Sejumlah figur publik yang dekat dengan anak muda juga mulai diajak untuk ikut terlibat, di antaranya Habib Jafar Husein, Atta Halilintar, Putra Siregar, Raffi Ahmad, Willy Salim, hingga Wirda Mansur.

Menurut Gus Ipang, NU perlu berani keluar dari pola komunikasi yang terlalu linier. NU Online nantinya juga akan menjadi salah satu jembatan agar berbagai program tersebut bisa lebih mudah diterima masyarakat.

“Kita harus berbicara bukan lagi tentang diri kita sendiri, melainkan tentang mereka dan permasalahan yang mereka hadapi. Di situlah kita menyuntikkan nilai-nilai dan ilmu yang kita miliki,” jelasnya.

Santri Harus Kuasai Ilmu Dunia

Transformasi yang digagas Gus Ipang tidak berhenti pada urusan komunikasi. Ia juga ingin melihat lulusan pesantren memiliki kemampuan yang lebih luas dan mampu bersaing di berbagai bidang.

Santri, menurutnya, tidak cukup hanya dibekali ilmu agama. Mereka juga perlu adaptif terhadap perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), agrobisnis, kewirausahaan, kepenulisan hingga bisnis kuliner.

“Santri harus paham ilmu akhirat sekaligus ilmu dunia. Soal ibadah itu sudah given dan melekat. Namun para santri juga harus adaptif dengan AI, paham agrobisnis, menjadi wirausahawan, penulis andal, hingga menguasai bisnis kuliner,” katanya.

Ia berharap dalam lima tahun ke depan semakin banyak lulusan pesantren yang memiliki kompetensi luas dan mampu mengambil peran di berbagai sektor.

“Lulusan pesantren jangan hanya memiliki kemampuan sebagai juru doa saja, tetapi harus lebih dari itu,” tegasnya.

Untuk mewujudkan target tersebut, Gus Ipang mulai menggerakkan jejaring yang dimilikinya. Sejumlah perusahaan teknologi disebut telah menunjukkan ketertarikan untuk bekerja sama dengan PBNU.

“Sudah mulai saya kontak network saya. Tinggal dipetakan sasaran, program, agenda berkala, serta timeline-nya,” pungkasnya.



ARTIKEL TERKAIT