Jum'at, 09 Oktober 2026 05:30 WIB

Kiai Imjaz Ungkap Kunci Kepemimpinan KH Miftachul Akhyar: Tegas Jaga Konstitusi, Lapang Merawat Ukhuwah


  • Kamis, 08 Oktober 2026 17:25 WIB

NAHDLIYIN.COM, Jakarta –  Rais Syuriyah PBNU KH Imam Jazuli atau Kiai Imjaz menilai kepemimpinan KH Miftachul Akhyar di Nahdlatul Ulama (NU) memiliki satu garis konsisten, yakni menempatkan disiplin organisasi, konstitusi jam’iyah, dan kemaslahatan NU di atas kepentingan personal maupun kelompok.

Menurut Kiai Imjaz, karakter tersebut terlihat sejak Kiai Miftach memimpin Syuriyah PWNU Jawa Timur hingga dipercaya sebagai Rais Aam PBNU.

“Tanpa disiplin, organisasi mudah ditarik ke dalam kepentingan personal ataupun politik. Ketegasan organisasi harus berjalan bersama musyawarah, adab, tabayun, dan kesediaan melakukan koreksi bersama,” ujar Kiai Imjaz dalam keterangan yang diterima nahdliyin.com, Rabu (7/10/2026).

Ia menilai sejumlah dinamika organisasi yang pernah terjadi di NU menunjukkan pentingnya menempatkan aturan sebagai pijakan bersama. Salah satunya ketika Kiai Miftach memimpin PWNU Jawa Timur dan menghadapi persoalan terkait keterlibatan pengurus dalam kontestasi politik praktis.

Preseden tersebut, menurut Kiai Imjaz, memperlihatkan bahwa jabatan di NU merupakan amanah yang dibatasi oleh aturan organisasi. Prinsip serupa juga tercermin dalam sejumlah proses penegakan disiplin di lingkungan NU pada periode berikutnya.

Kiai Imjaz juga menyinggung dinamika PBNU pada 2025 yang melibatkan Kiai Miftach sebagai Rais Aam dan KH Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum PBNU. Menurutnya, persoalan tersebut tidak tepat jika semata-mata dibaca sebagai konflik personal.

“Persoalannya jauh lebih kompleks. Ini menyangkut disiplin organisasi sekaligus sikap kepemimpinan Syuriyah sesuai kewenangan konstitusional dalam jam’iyah,” katanya.

Namun, Kiai Imjaz menekankan bahwa ketegasan dalam menegakkan aturan tidak berarti harus berujung pada pertentangan. Ia menunjuk keputusan Rapat Pleno PBNU pada Januari 2026 yang meninjau kembali sanksi terhadap Gus Yahya dan memulihkan posisinya sebagai Ketua Umum PBNU sebagai salah satu contoh.

“Ketegasan organisasi tidak identik dengan kekakuan. Ketegasan diperlukan agar jam’iyah tidak kehilangan wibawa, tetapi hati yang lapang diperlukan agar ketegasan tidak berubah menjadi pertentangan personal,” ujarnya.

Disiplin dan Ukhuwah

Kiai Imjaz menegaskan bahwa dinamika organisasi NU harus tetap dikelola melalui mekanisme yang berlaku. Perbedaan, menurutnya, merupakan bagian dari dinamika jam’iyah, tetapi tidak boleh berkembang menjadi perpecahan.

“NU tidak boleh berjalan berdasarkan kehendak personal, tekanan kelompok, atau popularitas sesaat. Jam’iyah harus memiliki tata tertib yang dihormati bersama,” tuturnya.

Kiai Miftach kembali dipercaya sebagai Rais Aam PBNU masa khidmah 2026–2031 melalui Muktamar Ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Menurut Kiai Imjaz, kepemimpinan NU ke depan membutuhkan keseimbangan antara ketegasan menjaga konstitusi dan kelapangan hati dalam merawat ukhuwah.

“Marwah jam’iyah diuji bukan ketika semua orang sepakat, melainkan ketika perbedaan muncul dan semua pihak tetap memilih menjaga serta tunduk pada konstitusi NU,” katanya.

Ia berharap kepemimpinan PBNU masa khidmah 2026–2031 di bawah Rais Aam KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin dapat merapatkan kembali barisan dan mengarahkan energi organisasi pada khidmah yang lebih nyata bagi umat, bangsa, dan kemaslahatan bersama.
 



ARTIKEL TERKAIT