Minggu, 11 Oktober 2026 06:17 WIB

Dari Dzikir ke Gerakan Pembebasan: Jejak Perjuangan Syekh Yusuf al-Makassari


  • Sabtu, 10 Oktober 2026 13:09 WIB

NAHDLIYIN.COM, Jakarta – Syekh Yusuf al-Makassari membuktikan bahwa tasawuf tidak berhenti pada ritual dan dzikir untuk mendekatkan diri kepada Allah. Di tangan ulama asal Gowa, Sulawesi Selatan, itu, ajaran sufistik menjelma menjadi kesadaran yang mendorong perlawanan terhadap kolonialisme dan perjuangan membebaskan kemanusiaan dari penindasan.

Gagasan tersebut mengemuka dalam diskusi film Syekh Yusuf al-Makassari: In the Blessing of Ceylon yang diselenggarakan Madani Film Fest bekerja sama dengan Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) di Ruang Jacob Oetama, Unusia, Jakarta, Jumat (9/10/2026).

Dosen Fakultas Islam Nusantara Unusia, Ginanjar Sya’ban, menjelaskan bahwa kiprah Syekh Yusuf tidak hanya berkaitan dengan kedalaman ilmu agama. Ia juga memainkan peran penting dalam perjuangan melawan kolonialisme, mulai dari keterlibatannya di Kesultanan Banten hingga pengaruh keagamaannya di Sri Lanka.

Menurut Ginanjar, Syekh Yusuf pernah menjadi penasihat urusan agama Kesultanan Banten dan membantu menyusun strategi perang gerilya melawan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), kongsi dagang Belanda yang menjalankan kekuasaan kolonial di Nusantara.

Keterlibatan tersebut membuat Syekh Yusuf ditangkap oleh pihak kolonial. Meski berada dalam tahanan, pengaruhnya dinilai tetap kuat hingga akhirnya ia diasingkan ke Sri Lanka.

“Pada 1683, beliau ditangkap di Priangan Timur, Tasikmalaya. Ketika ditahan di Batavia, pengaruhnya masih sangat besar, lalu dibuang lagi ke Sri Lanka kurang lebih hampir 10 tahun, dari 1684–1693,” ungkap Ginanjar.

Tasawuf yang Melahirkan Perlawanan

Pengasingan tidak menghentikan perjuangan Syekh Yusuf. Ia terus menulis, menyebarkan gagasan, dan menanamkan nilai-nilai keagamaan di tengah masyarakat. Pengaruhnya bahkan melampaui batas geografis Nusantara.

Ginanjar merujuk pada catatan penulis Belanda berjudul Old and New as Indie untuk menggambarkan penghormatan masyarakat Sri Lanka terhadap Syekh Yusuf. Salah satu kisah yang disinggungnya menceritakan seorang ulama lokal bernama Syekh Ibrahim yang datang untuk belajar kepada Syekh Yusuf.

“Datang kepadaku seorang ulama lokal Sri Lanka namanya Syekh Ibrahim. Dia minta untuk aku mengajarinya, tapi apalah saya ini yang masih seorang murid yang harus belajar,” tutur Ginanjar, mengutip penggalan yang dibahas dalam forum tersebut.

Bagi Ginanjar, jejak perjuangan Syekh Yusuf menunjukkan bahwa tradisi sufisme di Nusantara memiliki dimensi sosial dan politik yang kuat. Jauh sebelum sejumlah tokoh perlawanan di dunia Islam dikenal luas, Syekh Yusuf telah menunjukkan bahwa spiritualitas dapat berjalan beriringan dengan perjuangan melawan penjajahan.

Ia menjelaskan, kekuatan Syekh Yusuf terletak pada kemampuannya menginternalisasi nilai-nilai sufistik yang filosofis, kemudian menerjemahkannya menjadi tindakan nyata. Corak tasawuf tersebut bahkan menghadapi penolakan dari kalangan tertentu pada masa itu.

“Yang perlu kita catat, model sufismenya Syekh Yusuf ini sufisme falsafi, karena beliau mampu mentransformasikan ajaran sufistiknya menjadi gerakan pembebasan kemanusiaan atau aktivisme,” tegas penggiat manuskrip tersebut.

Atas kiprahnya, Ginanjar memandang Syekh Yusuf sebagai ulama transformatif dengan pengaruh internasional. Ia bukan hanya mengajarkan spiritualitas, melainkan juga memperlihatkan bagaimana nilai-nilai spiritual dapat menjadi sumber keberanian untuk melawan ketidakadilan.

Dzikir Harus Membangun Kesadaran

Dewan Pengarah Madani Film Fest, Inayah Wulandari Wahid, menilai pemikiran Syekh Yusuf relevan untuk dibicarakan kembali di tengah kebutuhan akan figur ulama yang mampu menghadirkan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat.

Menurut Inayah, ia jarang menemukan pembahasan tentang ulama yang menjadikan ritual dan dzikir sebagai titik awal untuk melawan kezaliman. Padahal, dalam sosok Syekh Yusuf, kedalaman spiritual justru berjalan bersama keberanian mengambil sikap terhadap ketidakadilan.

“Karena Syekh Yusuf al-Makassari itu adalah gambaran betapa defisitnya kita tentang ulama Islam yang sesungguhnya harus menjadi pemimpin hari ini,” ujarnya.

Putri bungsu KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur itu juga menjelaskan bahwa Syekh Yusuf tidak menjadikan perbedaan tata cara ritual sebagai persoalan utama. Ia lebih menekankan substansi ibadah dan pengaruhnya terhadap kesadaran manusia, sebagaimana tercermin dalam karyanya, Al-Barakat as-Sailaniyah.

Inayah menyoroti pesan Syekh Yusuf tentang pentingnya dzikir yang tidak hanya berhenti sebagai aktivitas ritual, tetapi juga membentuk cara pandang dan kesadaran seseorang dalam menjalani kehidupan.

“Dan yang menarik di buku itu, Syekh Yusuf ngomong dengan jelas bahwa dzikir itu peranannya besar sekali. Syekh Yusuf gak ngomong caranya dzikir yang baik, tetapi lebih dalam lagi, yaitu bagaimana dzikir harus membangun kesadaran,” terangnya.

Bagi Inayah, kesadaran itulah yang membuat nilai-nilai Islam mampu melahirkan tindakan pembebasan. Bahkan ketika tubuh Syekh Yusuf dibatasi melalui penahanan dan pengasingan, gagasan serta pengaruhnya tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat.

Spirit Perjuangan untuk Generasi Muda

Sementara itu, produser film, Irvan Aulia, menjelaskan bahwa sosok Syekh Yusuf dipilih karena menghadirkan perspektif berbeda tentang kehidupan seorang sufi. Tasawuf kerap dipahami sebagai jalan untuk memperbaiki hubungan pribadi dengan Sang Pencipta, tetapi Syekh Yusuf memperlihatkan bahwa kedalaman spiritual juga dapat melahirkan perlawanan terhadap penindasan.

“Tapi Syekh Yusuf ini ternyata tidak, oh dia melawan juga kok, itu gak cuma menyendiri,” ungkap Irvan.

Ia menilai, kisah Syekh Yusuf menyimpan pesan penting bagi generasi muda, terutama tentang bagaimana pemikiran dan keyakinan tidak berhenti pada tataran gagasan. Keduanya perlu diterjemahkan menjadi gerakan yang nyata dan berkelanjutan.

Melalui film dokumenter tersebut, Madani Film Fest mengajak masyarakat melihat kembali warisan intelektual dan perjuangan Syekh Yusuf al-Makassari. Sosoknya menghadirkan pelajaran bahwa spiritualitas bukan alasan untuk menjauh dari persoalan sosial, melainkan dapat menjadi sumber kekuatan untuk membangun kesadaran, menentang kezaliman, dan memperjuangkan kemanusiaan.



ARTIKEL TERKAIT