- 12 Oktober 2026
NAHDLIYIN.COM, Surakarta – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah resmi memulai rangkaian peringatan Hari Santri 2026 melalui kegiatan Kick Off di Gedung SBSN Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta, Sabtu (10/10/2026).
Mengusung tema “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri”, kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat peran santri, pesantren, dan perguruan tinggi dalam menjawab tantangan zaman sekaligus merawat persatuan bangsa.
Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin menegaskan, kekuatan NU tidak hanya terletak pada struktur organisasi, tetapi juga pada kreativitas warga dan gerakan kultural yang tumbuh di tengah masyarakat.
“Banyak kreativitas yang muncul di kalangan NU secara kultural yang sering kali melampaui aspek struktural. Hal ini sebenarnya menjadi kekuatan tersendiri sekaligus menunjukkan kemandiriannya,” kata Gus Rozin.
Menurutnya, momentum Hari Santri harus dimanfaatkan untuk meneguhkan peran NU sebagai kekuatan sosial-keagamaan yang tidak hanya membina umat, tetapi juga ikut mengawal kehidupan berbangsa dan bernegara.
Karena itu, kolaborasi antara pesantren, perguruan tinggi, dan masyarakat perlu terus diperkuat agar tradisi keilmuan dan keagamaan dapat melahirkan kontribusi nyata bagi bangsa.
Rektor UIN Raden Mas Said Surakarta, Prof. Toto Suharto, menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut di kampusnya. Ia menilai sinergi perguruan tinggi Islam dengan organisasi sosial-keagamaan memiliki peran penting dalam mempersiapkan generasi masa depan.
“Sinergi perguruan tinggi Islam dengan organisasi sosial keagamaan sangat penting untuk membangun dan menumbuhkan generasi emas mendatang,” ujarnya.
Pesantren dan kampus saling melengkapi
Ketua Panitia Hari Santri PWNU Jawa Tengah, Prof. Hasyim Muhammad, mengatakan kolaborasi pesantren dan perguruan tinggi menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat kontribusi NU di tengah masyarakat.
Pesantren memiliki kekuatan dalam tradisi keilmuan, pembentukan akhlak, dan kedekatan dengan masyarakat. Sementara itu, perguruan tinggi berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian, serta inovasi.
Dosen UIN Raden Mas Said Surakarta sekaligus Ketua Lakpesdam PWNU Jawa Tengah, Mokhamad Zainal Anwar, menilai kedua institusi tersebut dapat saling melengkapi melalui kerja sama di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
“Sinergi tersebut diharapkan mampu mempertemukan kekayaan tradisi keilmuan pesantren dengan perkembangan ilmu pengetahuan kontemporer, sehingga dapat melahirkan kontribusi nyata dalam menjawab persoalan sosial dan tantangan zaman,” ujarnya.
Menurut Zainal, tema Hari Santri tahun ini juga mengingatkan bahwa menjaga tradisi bukan berarti menutup diri terhadap perubahan. Sebaliknya, tradisi dapat menjadi pijakan untuk melahirkan gagasan dan gerakan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, sekaligus memperkuat komitmen kebangsaan.
Dari olahraga hingga layanan kesehatan
Kick off ini sekaligus menandai dimulainya beragam agenda Hari Santri 2026 yang disiapkan PWNU Jawa Tengah. Kegiatannya mencakup bidang pendidikan, keagamaan, sosial, olahraga, hingga lingkungan.
Sejumlah agenda yang disiapkan antara lain Workshop Literasi Ramah Lingkungan, Ziarah Masyayikh NU, Football Santri, Musabaqah Qiroatil Kutub (MQK), Kiai dan Bu Nyai Mantu Santri, serta lomba esai bagi santri dan guru.
PWNU Jawa Tengah juga menjadwalkan penghargaan bagi guru madrasah diniyah NU, khataman Al-Qur'an dan istigasah, Upacara Hari Santri, layanan kesehatan gratis dan dokter spesialis keliling, serta halaqah pengasuh pondok pesantren putri.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, PWNU Jawa Tengah ingin menjadikan Hari Santri lebih dari sekadar peringatan tahunan. Momentum ini diharapkan menjadi ruang bagi santri, pesantren, perguruan tinggi, dan masyarakat luas untuk terlibat dalam kegiatan yang membawa manfaat nyata.
Dengan menguatkan akar tradisi sekaligus membuka ruang kolaborasi dan inovasi, Hari Santri 2026 diharapkan mempertegas peran santri dalam merawat kehidupan keagamaan, menjawab persoalan sosial, dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).