Rabu, 28 Oktober 2026 15:51 WIB

PBNU Silaturahim ke Sejumlah Pesantren di Jawa Timur, Qanun Asasi Didorong Relevan dengan Zaman


  • Selasa, 27 Oktober 2026 21:33 WIB

NAHDLIYIN.COM, Jakarta – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memperkuat silaturahmi dengan sejumlah pondok pesantren di Jawa Timur. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menyatukan kekuatan struktural organisasi dengan jaringan kultural NU sekaligus menghidupkan nilai-nilai Qanun Asasi dalam menjawab tantangan zaman.

Katib Aam PBNU Prof KH Mohammad Nuh mengatakan, penguatan hubungan dengan pesantren menjadi salah satu agenda penting kepengurusan PBNU. Menurutnya, nilai-nilai dasar NU perlu terus diterjemahkan agar tidak berhenti sebagai teks, tetapi hadir dalam kehidupan masyarakat.

“Salah satunya yaitu menjadikan Qanun Asasi yang dari teks menjadi konteks. Bagaimana menerjemahkan Qanun Asasi itu dalam konteks kekinian,” kata Nuh, Selasa (24/10/2026).

Qanun Asasi merupakan landasan dasar Nahdlatul Ulama yang memuat prinsip-prinsip pendirian dan arah perjuangan organisasi. Karena itu, pemahaman terhadapnya perlu diikuti dengan penerapan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman.

Rangkaian silaturahmi tersebut diawali dengan kunjungan ke Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan. Rombongan PBNU terdiri atas Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Katib Aam PBNU Prof KH Mohammad Nuh, dan Sekretaris Jenderal PBNU H Gudfan Arif.

Dalam pertemuan itu, jajaran PBNU dan pihak pesantren bertukar pandangan mengenai penguatan organisasi serta penerapan nilai-nilai dasar NU di tengah masyarakat.

Bagi Nuh, hubungan NU dan pesantren bukan sekadar relasi kelembagaan. Keduanya memiliki ikatan historis dan kultural yang menjadi bagian penting dari kekuatan Nahdlatul Ulama.

“Antara NU dan pondok pesantren tidak bisa dipisahkan. Itu satu kesatuan utuh,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya merawat dua kekuatan NU sekaligus, yakni struktur organisasi dan jaringan kultural yang hidup melalui pesantren, kiai, santri, serta masyarakat Nahdliyin.

“Yang kultural itu jauh lebih besar dibandingkan yang struktural. Oleh karena itu, dua-duanya harus menjadi satu kesatuan yang utuh,” kata Nuh.

Setelah dari Sidogiri, rombongan PBNU melanjutkan silaturahmi ke Pondok Pesantren Nurul Jadid di Paiton, Probolinggo, kemudian ke Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo.

Nuh menyampaikan, rangkaian agenda tersebut juga mencakup rencana peresmian aula dan kantor PCNU Situbondo serta keikutsertaan rombongan dalam Haul Akbar atau Haul Majemuk di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.

Rangkaian kunjungan ini menjadi momentum untuk mempererat komunikasi antara pengurus PBNU dan komunitas pesantren. Penguatan hubungan tersebut diharapkan mendukung konsolidasi organisasi sekaligus memastikan nilai-nilai dasar NU terus hadir dan memberi manfaat bagi masyarakat di tengah perubahan zaman.
 



ARTIKEL TERKAIT