Rabu, 28 Oktober 2026 15:47 WIB

KH Ubaidullah Shodaqoh: Menyakiti Alam Sama dengan Menyakiti Diri Sendiri


  • Selasa, 27 Oktober 2026 21:41 WIB

NAHDLIYIN.COM, Batang – Merusak alam bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga ancaman bagi kehidupan manusia sendiri. Sebab, manusia dan alam merupakan satu kesatuan yang saling terhubung dan tidak bisa dipisahkan.

Pesan tersebut disampaikan Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Ubaidullah Shodaqoh dalam Dialog An-Nahdliyah bertema “Indonesia Darurat Krisis Sosial Ekologis” yang digelar Lakpesdam PCNU Batang di Masjid Hasyim Asy'ari, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, Selasa (27/10/2026).

Kiai Ubaid menjelaskan, Al-Qur'an mengisyaratkan bahwa alam semesta memiliki keterkaitan satu sama lain. Matahari, bulan, bumi, tumbuhan, hewan, hingga manusia merupakan bagian dari ciptaan Allah SWT yang saling bersinergi.

“Alam yang kita katakan mati, tumbuhan, hewan, dan manusia merupakan satu kesatuan yang bersinergi dengan sangat indah,” ujarnya.

Menurutnya, kesadaran bahwa manusia merupakan bagian dari alam seharusnya mendorong setiap orang untuk menjaga lingkungan. Sebab, kerusakan yang ditimbulkan terhadap alam pada akhirnya akan kembali berdampak pada kehidupan manusia.

Ia juga mengaitkan hubungan manusia dengan alam melalui penciptaan Nabi Adam dari tanah. Dalam penjelasannya, bumi dapat dimaknai secara metaforis sebagai “ibu” bagi manusia karena tanah menjadi unsur asal penciptaan manusia atas kehendak Allah SWT.

“Dengan demikian, ketika kita menyakiti alam, sesungguhnya kita sedang menyakiti ibu kita sendiri. Dalam hakikatnya, itu termasuk uququl walidain atau durhaka kepada orang tua, yang merupakan dosa besar,” tegasnya.

Krisis Ekologi Bukan Sekadar Urusan Lingkungan

Kiai Ubaid menambahkan, menjaga alam juga berkaitan dengan kesadaran spiritual manusia. Menurutnya, keseimbangan kehidupan akan terjaga ketika manusia senantiasa mengingat Allah SWT dan menaati aturan-Nya.

“Alam ini akan menjadi tenang apabila manusia selalu ingat kepada Allah. Artinya, manusia mengingat aturan-aturan Allah dan menjadikan Allah sebagai tujuan. Jika manusia melalaikan Allah SWT, maka akan celaka,” jelasnya.

Ia kemudian menguraikan pandangannya mengenai keterkaitan makhluk hidup dengan zikir kepada Allah. Menurutnya, pembahasan ekologi perlu dilihat tidak hanya dari sisi fisik, tetapi juga melalui perspektif spiritual dan tanggung jawab manusia sebagai bagian dari alam semesta.

Dalam dialog tersebut, Kiai Ubaid juga mengingatkan ancaman krisis pangan global apabila kerusakan lingkungan terus berlangsung tanpa kendali.

Ia mengutip pandangan seorang peneliti yang disebutnya sebagai Prof Arqom dari Universitas Indonesia, yang memperkirakan krisis pangan global dapat terjadi pada 2040 jika kecenderungan kerusakan alam terus berlanjut.

“Kami kemarin ketemu Prof Arqom, seorang peneliti dari Universitas Indonesia. Beliau mengatakan bahwa tahun 2040 akan terjadi krisis pangan di seluruh dunia melihat kecenderungan kerusakan alam ini,” tuturnya.

Kiai Ubaid menyebut berbagai terobosan di bidang pangan mulai dikembangkan untuk menghadapi perubahan lingkungan. Namun, menurutnya, upaya tersebut perlu dibarengi perubahan perilaku manusia agar tidak terus mengeksploitasi alam secara sembarangan.

“Maka sekarang sudah dibuat terobosan-terobosan makanan dalam rangka menghadapi perubahan alam ini, ketika kita selalu sembrono bermain-main dengan alam sehingga Allah akan merubah. Karena manusia sudah merubah gaya hidup,” pungkasnya.

Pesan Kiai Ubaid menjadi pengingat bahwa krisis ekologis tidak bisa diselesaikan hanya melalui teknologi atau kebijakan. Kesadaran spiritual, perubahan perilaku, dan tanggung jawab bersama dalam menjaga lingkungan juga menjadi bagian penting agar alam tetap lestari dan kehidupan generasi mendatang terlindungi.
 



ARTIKEL TERKAIT