Kamis, 29 Oktober 2026 06:04 WIB

Gus Faiz Soroti Pejabat yang Tanya Dalil MBG, tetapi Abai Dugaan Penyelewengan Anggaran


  • Rabu, 28 Oktober 2026 22:47 WIB

NAHDLIYIN.COM, Gresik – Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Keagamaan, Pesantren, dan Dakwah KH Muhammad Faiz Syukron mengingatkan pentingnya menempatkan nilai agama tidak hanya dalam membahas program pemerintah, tetapi juga dalam mengawasi pelaksanaannya.

Gus Faiz, sapaan akrabnya, menyoroti pejabat yang mempertanyakan dalil agama terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG), tetapi dinilai kurang memberi perhatian pada landasan moral dalam pengelolaan anggaran, termasuk dugaan penyelewengan dana.

Hal itu disampaikan saat menghadiri Kuliah Umum Refleksi Hari Santri Nasional 2026 di Pondok Pesantren Mambaus Sholihin, Gresik, Jawa Timur, Selasa (27/10/2026).

Menurut Gus Faiz, program memberi makan memiliki landasan dalam ajaran Islam. Namun, perhatian terhadap dalil tersebut semestinya juga diiringi dengan kepedulian terhadap integritas dan tanggung jawab dalam pelaksanaannya.

“Jadi (program) terkait MBG itu ada (dalilnya). Sayangnya pejabat negara banyak bertanya hadits MBG, lupa tanya 'hadits yang menolong di SPPG itu apa Kiai?' Itu jarang ditanya,” kata Gus Faiz, dikutip NU Online dari kanal YouTube Al-Fikrah Channel.

Ia menegaskan, nilai agama juga harus menjadi pijakan dalam menjaga amanah dan mencegah penyalahgunaan uang negara.

“Jadi yang ditanya itu hadits (program) MBG-nya. Hadits yang menolong duit negara itu enggak ditanya, padahal semuanya kan (dalilnya) ada,” tegas putra almarhum KH Syukron Ma’mun tersebut.

Santri Perlu Kuasai Syariat untuk Menjawab Persoalan Zaman

Dalam kesempatan itu, Gus Faiz juga mengingatkan pentingnya peran santri dalam memahami dan mengembangkan pemikiran keagamaan untuk menjawab persoalan masyarakat yang terus berkembang.

Ia menjelaskan, tidak semua persoalan kehidupan dijelaskan secara terperinci dalam Al-Qur’an. Karena itu, diperlukan peran ulama untuk menggali hukum Islam berdasarkan sumber-sumber syariat dan keilmuan yang diwariskan para ulama.

“Salah satu ruhnya Islam itu di antaranya at-taqlil minat tasyri’. Syariat ini dibuat Rasulullah sedikit. Tidak semua persoalan itu ada di Al-Qur’an,” terangnya.

Gus Faiz mencontohkan persoalan pelaksanaan shalat ketika seseorang sedang bepergian menggunakan kendaraan, seperti kereta dan unta. Menurutnya, persoalan semacam ini menunjukkan pentingnya pendalaman ilmu agama agar umat dapat memahami tuntunan syariat dalam berbagai situasi.

Ia pun mengajak para santri untuk mensyukuri kesempatan belajar agama atau tafaqquh fiddin. Proses tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan ajaran Islam sekaligus melahirkan generasi ulama yang mampu membimbing masyarakat.

“Kewajiban kita adalah menghidupkan agama. Dan hidupnya agama itu dengan melahirkan generasi-generasi al-fuqaha,” ujarnya.

Gus Faiz berharap para santri Pondok Pesantren Mambaus Sholihin tidak hanya mendalami ilmu agama, tetapi juga mampu menghadirkan jawaban atas persoalan keagamaan dan kemasyarakatan yang terus berkembang.



ARTIKEL TERKAIT